follow me

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Rabu, 01 Agustus 2012

Untuk tuan di gedung megah (Karawang yang Malang)


Karawang kota “lumbung padi” Jawa Barat. Kabupaten dipesisir utara Jawa. Kau bagai ibu yang memberi anak-anakmu makan tanpa kenal pamrih. Kau diperas setiap hari seperti sapi perah. Sekarang kau begitu gemerlap dengan lampu – lampu dipinggir jalan, bangunan bangunan megah menghiasi disetiap penjuru.  Kadang orang yang pertama kali berkunjung akan bertanya dimana sawah yang menjadikan kau dipanggil “lumbung padi”?
Saya mulai memikirkan hal yang ditanyakan orang tadi, dimana letak sawah yang menjadikan Karawang Lumbung padi? Atau memang sekarang sudah menghilang digagahi gedung – gedung mewah, atau sudah berubah menjadi kawasan – kawasan industri? Sepanjang jalan dari kota terus saya renungkan. Apa memang sawah sudah menjadi hal yang asing bagi masyarakat karawang?
Setelah saya cermati, daerah Karawang yang memang masih banyak memiliki sawah ada di daerah utara. Daerah ini memang sentra penghasil padi di karawang. Dengan rata – rata produksi padi 6 – 8 ton/ha, ukuran yang cukup tingggi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, bahkan lebih tinggi dari Negara yang mengekspor berasnya ke Indonesia yaitu Vietnam dan Thailand yang hanya 3-5 ton/ha. Tetapi memang kesejahteraan petani di Karawang sangat berbanding terbalik dengan di luar negeri. Pemilikan lahan yang sempit, bahkan kebanyakan hanya petani penggarap yang mengurusi sawah tuannya diluar daerah, yang menyebabkan penghasilan petani menjadi tidak mencukupi.
Dan sekarang hal yang lebih serius mengancam keberadaan sawah di karawang. Alih fungsi lahan yang sangat cepat terjadi. Entah berapa luas sawah yang sudah terkonversi menjadi kawasan industri. Memang pabrik – pabrik di kawasan industri menyerap banyak tenaga kerja, tapi apa warga pribumi yang menikmatinya? Ternyata hanya 15% pekerja yang berasal dari pribumi. Selebihnya dari mana? Dari daerah – daerah luar karawang. Setelah sawah dikonversi menjadi pabrik, petani tidak punya lahan lagi untuk bertani. Lalu dia mengharapkan anaknya bisa bekerja diperusahaan untuk menyambung hidup, tapi ternyata untuk bekerja di daerah sendiri pun sangat sulit. Lalu untuk apa di konversi bila hanya membuat masyarakatnya sendiri terpinggirkan? Mata pencaharianya hilang? Entah lah, apa yang dipikirkan Tuan digedung megah sana.
Tuan dengan bangganya merubuhkan gedung-gedung yang masih kokoh, dan Tuan seperti acuh ketika harus bertugas  ke Cilamaya yang jalan penghubungnya lebih laik jadi arena off road dari pada jalan raya. Dan bahkan Tuan pun asli orang sana. Tuan membangun gedung Sekolah Dasar di kota dengan dana bermilyar – milyar tapi gedung sekolah di desaku masih jauh dari sederhana. Jangan terlalu banyak tidur Tuan, ketika Tuan bangun sawah – sawah sudah hilang, rakyatmu kelaparan, anak – anak meratapi gedung sekolahnya yang roboh. Cepatlah bangun Tuan di gedung megah!!!!!
                                                                                                                                                                Cariu, 22 Juli 2012

Saeful Ramadhan
Anggota Biasa
Biro Lingkungan Hidup Azimuth