Tidak terasa waktu
sudah berjalan begitu cepat. Artinya sudah lama juga tidak pernah jumpa dia lagi.
Ya ibarat antara waktu dan dia bagaikan sebuah grafik linier, dimana semakin
lama waktu berjalan maka semakin tak tertahan lagi rasa ingin jumpa dia. Penasaran
akan keberadaannya, kabarnya, kerja dimana sekarang, pendamping dia sekarang,
dan masih rasa penasaran yang lainnya yang ingin saya tahu.
Sesekali
kadang saya suka stalker-in dia di sebuah akun twitter maupun fb, sayang
sekarang dia sudah tidak pernah lagi menggunakan fb dan akun twitter juga hanya
nongol cuma beberapa kali saja, habis itu hilang. Mungkin dia sudah tertutup
dalam mempublish soal kehidupan dia. Saya rasa dia sudah semakin dewasa dalam
menjalani hidup.
Suatu
ketika dibulan ramdhan (saya yang beragama islam mungkin sudah kewajibannya
dalam menjalani ibadah puasa), dia ngebbm saya (blackberry messenger)
menanyakan kebaradaan saya ada dimana pas hari weekend, spontan saya jawab lagi
ada di bogor. Tiba-tiba dia bilang akan ke bogor untuk buka bersama bersama
teman-teman sekelasnya sekaligus mengajak saya ikut berbuka bersama, dan saya
jawab “insyallah iya saya ikut tapi setelah acara selesai kita ke puncak”. Dan
dia pun mengiyakan ajakan saya. Betapa senangnya ketika itu, bagi saya puncak
adalah suatu tempat kenangan yang termanis bagi saya dimana tempat itu menjadi saksi
ungkapan perasaan saya kepada dia. Kali ini saya ingin mengajak ke tempat yang
lebih istimewa ketimbang ditempat saat saya mengutarakan perasaan saya, gantole
tempatnya. Disana view kota bogor akan kelihatan lebih indah, apa lagi kalau
malam hari gemerlap kehidupan kota bogor lebih terasa.
Tidak
kerasa hari weekend pun tiba, itu tandanya bahwa dia hari ini akan tiba ke kota
bogor, kota hujan dan kota sejuta kenangan. Betapa deg-degan hati ini ketika
melihat jam tangan, tinggal beberapa menit lagi saya akan berjumpa dengan dia
dan pastinya tidak akan saya sia-siakan waktu ini untuk mengenang masa lalu
bersama dia. Tidak begitu lama, tiba-tiba ada sebuah pesan singkat ke hp saya,
ternyata sms dia. Dia bilang nanti habis magrib aja kita jalannya dan meminta
jemput di tempat kosan temannya. Kecawa? Ya saya kecewa, saya kira berbuka
puasa bersama dia saat adzan magrib berkumandang. Tapi sudahlah, rasa kecewa saya
tadi masih bisa dipendam dalam hati. Positif, positif, dan positif yang ada
dipikiran saya, karena setelah berjumpa dia pasti rasa kecewa tadi berbuah menjadi
manis. Dan saya pun membalas pesan
singkat dia, “iya gpp, nanti sms aja kalau udah siap”.
Adzan magrib pun telah berkumandang, saya pun
mengambil minum dan langsung mengambil air wudhu untuk menjalankan kewajiban
saya. Setelah shalat, hati ini kembali tidak tenang ketika tak ada juga kabar
dari dia. Menonton TV sambil menunggu kabar dari dia mungkin akan sedikit
terobati rasa pegal saya. Positif, positif, dan positif dalam pikiran saya,
karena saya percaya ketika menghadapi hal seberat maupun sepahit apa pun akan
berbuah manis pada waktunya.
Suara hp pun berbunyi, ternyata dia menelepon saya. Dia
meminta untuk menjemputnya di tempat kosan temannya dan meminta dibawakan jaket,
saya pun mengiyakan permintaan dia. Tidak pikir panjang saya pun langsung
bergegas kesana. Setiba di kosan temannya, ternyata banyak sekali teman-temannya
yang sedang bersama dia. Pikiran malu pun menghatui saya. bagaimana tidak,
teman-teman mereka sebagian besar teman saya juga, bisa-bisa saya jadi bahan
olok-olokan disana. Sudahlah, lagi-lagi saya berpikiran teguh pada prinsip percaya
ketika menghadapi hal seberat maupun sepahit apa pun akan berbuah manis pada waktunya.
Saya pun langsung menghampiri dia dan menyalami teman-teman saya yang kebetulan
juga ada disana. Ketika saya ngobrol dengan teman-teman, saya curi pandangan
saya untuk menatap dia, subhanallah begitu cantiknya dia sekarang. Sehelai kain
sorban yg menutupi sebagian kepalanya menambah pesona aura cantiknya. Dalam bisik
hatiku, “kau sangat terlihat cantik seperti bidadari bila dengan agama yang kau
kenakan kain itu”.
Setengah jam kemudian kami pun berangkat menggunakan
motor dan sebagian mobil. Diperjalanan saya tidak bisa berbicara banyak apa-apa
seperti hal nya seorang pengecut. Kini sosok wanita yang tidak bisa pergi dari
pikaranku ini tepat ada dibelakang saya, entah mengapa saya menjadi gugup ketika
disamping dia. Sudahlah nanti saja dipuncak sana saya memberanikan diri untuk
mengobrol lebih banyak lagi.
Nasi goreng kambing mancur, ya itu merupakan tempat makan
favorit saya dan dia waktu itu. Saya pun mengajak dia untuk makan disana saja
sekaligus mengenang masa lalu. Dia pun mengiyakan permintaanku. Tapi lagi-lagi
sifat pengecut ini kembali datang menghampiri saya, kini saya menjadi gugup dan
tidak bisa berbicara banyak. Saya hanya bisa diam ketika dia selalu bermain
dengan gadget nya. Saya lihat ternyata dia sekarang aktif menggunakan akun path
dan disana saya mendapatkan jawaban paling tidak tentang dia yang jarang lagi
aktif menggunakan akun twitter. Disana tidak ada obrolan panjang, dan kita
bergegas pergi ke salah satu tempat makan di daerah taman kencana yang sudah
ditunggu teman-teman dia.
Setelah
tiba di tempat makan, kami semua berbuka bersama dengan teman-teman yang sudah
lama tidak bertemu lagi semenjak mereka sudah lulus menjadi seorang sarjana. Kini
tempat duduk dia dengan saya agak berjauhan, dia ditengah dan saya di ujung. Lagi-lagi
saya curi pandangan saya untuk menatap dia, sayangnya kain sorban yang menutup
kepalanya dia lepas. Walaupun terlihat cantik, namun tidak secantik ketika saya
menjemputnya tadi. Entah apa hubungannya kecantikan antara mengenakan kain
sorban itu atau tidak, yang jelas ada sesuatu perbedaan dalam batin menurutku.
Obrolan sana sini membuat saya tidak sadar akan dengan
waktu. Ternyata hujan turun cukup lebat dan jam ditangan menunjukkan sekitar
jam 20.30an. Gawat, apakah dia mau berangkat ke puncak dalam keadaan hujan
seperti ini? Sudahlah lebih baik saya tunggu hujan ini sampai reda toh teman-teman
pun belum pergi pulang, dan lebih baik melanjutkan obrolan kami.
Jam 21.00an hujan pun mulai reda, kami pun cepat-cepat bergegas
pulang. Saya pun pergi duluan dan menunggu dia di parkiran motor karena saking
semangatnya untuk pergi ke puncak. Entah kenapa, tiba-tiba hujan turun kembali.
Firasatku sudah mulai tidak enak, tapi lagi-lagi saya berpegang teguh dengan
prinsip saya yang tadi. Menunggu dia dibalik derasnya hujan sambil membayangkan
dia ketika menggunakan kain sorban itu cukup mengobati rasa pegal saya. Tiba-tiba
ada pesan singkat dia ke hp saya, dia mengajakku untuk menonton bersama
teman-temannya. WHAT THE ****!. Kini firasat untuk bisa pergi ke puncak gagal
menghatui saya. Tidak pikir panjang saya pun menolak ajakan dia dan membebaskan
dia memilih untuk menonton ketimbang pergi dengan saya. Dan ada balasan pesan
singkat dari dia, dia menanyakan kalau dia pergi apakah saya tidak marah? Saya pun
langsung jawab tidak kok sudah biasa. Campur aduk antara kecewa dengan
dinginnya hujan meruntuhkan semua prinsipku yang sudah ku pegang teguh salama
ini ketika hujan mulai reda dia berpamitan kepada saya untuk pergi menonton
bersama teman yang lainnya. Tersenyum yang bisa saya lakukan ketika itu dan berdiri
tegak melihat dia pergi begitu saja dengan menutup kepalanya dengan kain sorban
itu.
Hujan yang tadinya mulai reda, kini menjadi deras lagi. Saya
menepi ke pelantaran parkiran sambil menunduk lesu. Walaupun saya tidak ikhlas untuk
kehilangan dia, tapi saya harus siap untuk kehilangan dia. Bisikan telinga kiri
pun terdengar janji ya janji, janji harus ditepati dan janji bukan sekedar
hutang yang bisa dibayar lain hari lagi, sedangkan bisikan telinga kanan
terdengar Tuhan mengirim hujan karena mungkin ini saatnya jalan bagi saya untuk
melupakan dia. Satu jam hujan tidak kunjung reda, saya pun memilih lebih baik
pulang walaupun nantinya sakit. Sakit karena hujan mungkin tidak akan sesakit
rasanya sakit hati.
Terima kasih