follow me

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Senin, 14 April 2014

Ibu, Ayah. Terimakasih dan Maafkan anakmu ini



  Apakabar ibu disana? bagaimana kabar ayah disana? dan bagaimana juga kabar adik-adikku disana? setiap hari bahkan setiap detik pertanyaan itu selalu keluar dari hati saya. rindu yang tak terbendung ini seakan menyanyat hati perlahan-lahan. Belaian kasih sayang mereka seakan-akan membuatku tak nyaman jauh darinya. Dirumah sederhana itu, saya bersyukur bisa tumbuh besar bersama mereka dan bisa mengenal mereka. Terimakasih Tuhan.
  Ibu, terimakasih kau telah merawatku saat dalam kandunganmu, melahirkanku dengan pengorbanan nyawamu, menyusuiku saat pertama ku mengenal dunia, membimbingku saatku kanak-kanak, membesarkanku hingga kini ku tumbuh dewasa. Ayah, terimakasih juga kau telah menjaga ibuku saat aku masih didalam kandungannya, menemaninya saat dia kesakitan karenaku, menurutinya saat dia mengidamkan sesuatu, banting tulang untuk sekedar sekaleng susu, mengalir deras keringatmu untuk menghidupi keluargamu, dan membimbingku serta membesarkanku hingga kini ku tumbuh dewasa. Terimakasih Ibu. Terimakasih Ayah.
  Adik-adikku, terimakasih kau telah memberikan kebahagian dirumah yang sederhana itu. Dengan kehadiranmu telah memberikan warna dirumah sederhana itu. Tawamu, Tangisanmu, dan manjamu memberikan arti kerinduanku padamu. walaupun kita pernah bertengkar, itu adalah proses menuju kasih sayangku padamu. Terimakasih adik-adikku.
   Kini usia mereka semakin bertambah tua, ayah sudah pensiun dari pegawai negeri sipil, ibu sudah mulai beruban, adik-adik sudah mulai pergi mencari ilmu ke luar kota, dan begitu pula denganku yang bekerja merantau jauh di pulau seberang. rumah yang sederhana itu yang dulunya ramai, kini berubah menjadi sepi. Mereka yang dulunya menjaga kita hingga dewasa, sekarang anak-anakmu pergi meninggalkanmu yang semakin tumbuh tua. Oh Tuhan, Maafkanlah aku.
   Walaupun jarak aku dengannya beratus ribu kilometer, terhalang oleh dalamnya lautan, terhalang tingginya pegunung, tapi dalam doa ku selalu sebut namanya, dalam tidur ku selalu mengingatnya dan dalam kesepian ku selalu merindukannya. kelak aku akan pulang kesana, ke rumah yang sederhana itu. Ayah, Ibu. Tunggulah anakmu disana.
  Dalam renungan, batin ini terasa menyiksaku. aku tidak mau menyianyiakan waktu. selagi masih ada mereka dan selagi aku belum berkeluarga, aku ingin menjaga, merawat, dan membahagiakan mereka seperti mereka melakukannya kepadaku saat sebelum dan setelah terlahir kedunia. Oh Tuhan, berikanlah mereka kesehatan dan umur yang panjang. amin..




Jam 00.21 WIB. Ditepi Sungai Pawan, Ketapang 13 April 2014



Jumat, 04 April 2014

Merantaulah, Agar Kau Tahu Kenapa Kau Harus Pulang, Agar Kau Tahu Siapa Yang Kau Rindu

kalimantan membuat gw belajar untuk menyukai secara tulus, elu harus bisa menerima kekurangannya terlebih dahulu. "make a deal with the differences and accept that nothing is perfect".
di provinsi kalimantan barat, tempat dimana gw bertemu dengan orang-orang hebat dan belajar dengannya.
di kecamatan nangatayap kabupaten ketapang, tempat gw belajar untuk lebih bersyukur dan bersabar.
gw bersyukur menjadi warga negara indonesia mempunyai aneka ragam budaya, bahasa, suku, dan agama. karena gw disini hidup ditengah-tengah mereka.
gw bersyukur terlahir di negeri ini yang mempunyai sejuta kekayaan alamnya. karena gw disini hidup ditengah-tengah kekayaannya.
mungkin disini bukan kota terbaik untuk ditinggali, tapi gw akui disini adalah tempat yang kondusif dari keramaian dan tentunya bagus untuk berkarier.
walaupun tetep tempat gw, majalengka is the best place for living, tempat yang kondusif untuk dekat dengan orang tua, berkeluarga, dan membesarkan anak. tapi, disini bikin gw ngerti tentang arti merantau. "merantaulah, agar kau tahu kenapa kau harus pulang, agar kau tahu siapa yang kau rindu".