follow me

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sabtu, 07 Maret 2015

Doa Sindoro Sumbing (III)

Majalengka - Wonosobo

Malam harinya jam 8, kami berlima berkumpul dirumah mandra sekaligus ditemani si bonus. Setelah mengatur barang-barang di dalam keril, akhirnya kami berangkat sejam kemudian dan berpamitan ke si bonus, memintanya mendoakan kami semua agar selamat sampai kembali pulang. Kami bertiga naik sebuah elf, sedangkan mandra naik motor sampai pertengahan jalan dan menyambungnya kembali dengan elf. Di dalam elf, kami bertiga tidak banyak saling berkomunikasi. Kondisi didalam elf pada malam itu didesaki para penumpang dan posisi duduk kita berjauhan. Setelah sampai setengah perjalanan, ada sosok lelaki yang memberhentikan elf kami. Keril yang tinggi menjulang dibelakang badannya, seakan dia sosok pendaki juga yang entah mau mendaki gunung mana. Setelah dia naik kedalam mobil, ku perhatikan sosok lelaki itu. Ternyata lelaki itu tak asing dengan kita, Mandra. Aku terkejut dan senang melihatnya karena rombongan kami telah berkumpul.
15 menit kemudian, kami pun telah tiba di kadipaten. Sebuah nama yang lebih terkenal dibandingkan nama kotanya. Dulu aku kagum dengan daerah ini. Daerah yang punya bangunan yang bernilai history, tapi seakan perkembangan jaman bangunan-bangunan itu disulap menjadi minimarket, ruko, dan ladang yang tak terurus. Menurutku dengan adanya perkembangan jaman berdampak semakin tidak menghargai yang bernilai histrory, budaya, dan adat karena ujung-ujungnya uang. “ah sudahlah, aku ini Cuma rakyat bodoh yang tak tahu apa-apan tentang jalannya pemimpin kota ini yang [katanya] pintar”, dalam benakku.
Setelah menunggu satu jam (22.00 wib), bus yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga. kami pun langsung bergegas masuk kedalam bus. aku sungguh terkejut melihat kondisi didalam bus. para penumpang berdiri berdempetan, tak ada ruang gerak dan jangan harap bisa menemukan kursi kosong. Didalam bus kami pun tak banyak berkomunikasi. Aku lihat posisi teman-teman kami disekitar, ku lihat si kutil dedepanku, si mandra dibelakangku, dan si kolor terhalang oleh 5 orang dariku. Sesekali aku perhatikan si kolor sambil kuawasinya, kepalanya menyentuh tangannya yang diangkat keatas pegangan penumpang, matanya sayu tertiup angin malam, dan tubuhnya yang lentur mengikuti irama bus. aku tahu dia terasa kecapean dan ingin tidur. Di Brebes, sebagian penumpang banyak yang turun. Aku berharap diantara penumpang yang turun adalah penumpang yang duduk. Mataku mulai menatap tajam mencari kursi yang kosong dan tak peduli jika harus berebutan dengan penumpang yang lainnya. Aku berniat jika menemukan kursi itu, akan kuberikan kepada si kolor agar bisa beristirahat. Aku temukan satu kursi kosong, dan akhirnya keduluan sama si kutil. Aku memintanya agar kursi itu diberikan ke si kolor, dan dia tidak keberatan memberikannya. Tinggal kami bertiga yang berdiri. Antara pegal dan cape, akhirnya kami duduk dilantai bus. sesekali kami pun tertidur dengan menekuk kedua kaki kita masing-masing. Setelah tiba di Tegal, kebanyakan penumpang banyak yang turun. Kali ini aku tak perlu repot-repot berebutan kursi. Kami bertiga akhirnya mendapatkan kursi yang kosong walau posisi kami berjauhan. Aku lihat mereka melanjutkan tidurnya yang tertunda, sedangkan aku masih melihat pemandangan diluar jendela yang masih gelap gulita. Disepanjang jalan pasifik Tegal hingga Kroya, aku teringat jaman KKP (Kuliah Kerja Profesi) dulu. Aku teringat dimana aku dan kawan-kawan sholat dan melanjutkan makan bersama dihalaman mesjid dekat mall pasifik, aku teringat menghabiskan waktuku bersama wanitaku serta kawan-kawanku dulu di sepanjang jalan ini, dan aku teringat dimana aku dan kawan-kawanku melalui jalan ini ketika pergi ke gunung slamet. Kenangan itu seakan mengiringi aku untuk menjauh dari otak sadarku, dan akhirnya setelah melewati daerah Kroya aku pun tertidur.
Jam 03.30 dini hari akhirnya kami tiba di terminal Purwokerto. Kami pun bergeges mencari bus yang melewati daerah Kledung. Tak perlu lama untuk mencari bus tujuan kami, disana banyak para calo yang mengarahkan tujuan kita. Kami pun menunggu bus diluar karena masih mengetem, dan kami pun sedikit berfoto-foto dan menghisap kretek yang ku bawa. Kali ini penumpangnya tidak terlalu banyak, dan kami pun bisa memilih kursi yang diinginkan. Jam 04.30 wib kami pun berangkat dan semuanya melanjutkan sisa tidurnya yang tertunda.
Disekitar daerah Wonosobo, aku terbangun mendengar banyak langkah kaki yang berebutan turun. Ku tanyakan pada penumpang yang turun, dan ternyata penumpang bus ini dioper dan disuruh pindah ke bus yang dibelakangnya. Kami pun sontak kaget dan betapa malasnya ketika harus memindahkan keril satu demi satu ke bus satunya lagi. Kejadian ini seperti memaksaku untuk melakukan olahraga pagi. Di bus baru ini, penumpang terlihat sedikit penuh dibandingkan bus yang mengangkut kami dari wonosobo. kami duduk dibelakang bus, dan menikmati pesona keindahan lembah gunung sindoro sumbing yang seakan membuat kita enggan untuk tidur kembali.
Jam 08.15 wib kami tiba di Kledung dengan sambutan hujan gerimis. Daerah ini merupakan salah satu jalur menuju gunung sindoro sumbing. Kami memutuskan untuk mendaki gunung sumbing terlebih dahulu. Melihat gps di handphone ku, kami mengikuti arah basecamp gunung sumbing, STICKPALA. Tak susah untuk menemukannya, karena lokasinya persis disisi jalan. Tiba di basecamp, kami beristirahat sebentar dan mencharger handphone. Kami bagi-bagi tugas, Mandra dan kolor membeli logistik dipasar yang letaknya tak jauh dar basecamp, sementara aku mengecek perlengkapan yang akan dibawa dan kutil memesan makanan serta menitipkan barang yang tak terpakai ke basecamp. Setengah jam kemudian mandra dan kolor sudah kembali, dan tak lama kemudian makanan kami telah datang. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskannya, aku menyadari kami semua belum makan dari semalam.