Apakabar
ibu disana? bagaimana kabar ayah disana? dan bagaimana juga kabar adik-adikku disana?
setiap hari bahkan setiap detik pertanyaan itu selalu keluar dari hati saya. rindu
yang tak terbendung ini seakan menyanyat hati perlahan-lahan. Belaian kasih sayang
mereka seakan-akan membuatku tak nyaman jauh darinya. Dirumah sederhana itu, saya
bersyukur bisa tumbuh besar bersama mereka dan bisa mengenal mereka. Terimakasih
Tuhan.
Ibu, terimakasih kau telah merawatku saat dalam
kandunganmu, melahirkanku dengan pengorbanan nyawamu, menyusuiku saat pertama ku
mengenal dunia, membimbingku saatku kanak-kanak, membesarkanku hingga kini ku tumbuh
dewasa. Ayah, terimakasih juga kau telah menjaga ibuku saat aku masih didalam kandungannya,
menemaninya saat dia kesakitan karenaku, menurutinya saat dia mengidamkan sesuatu, banting tulang
untuk sekedar sekaleng susu, mengalir
deras keringatmu untuk menghidupi keluargamu, dan membimbingku
serta membesarkanku hingga kini ku tumbuh dewasa. Terimakasih Ibu. Terimakasih Ayah.
Adik-adikku, terimakasih kau telah memberikan
kebahagian dirumah yang sederhana itu. Dengan kehadiranmu telah memberikan warna
dirumah sederhana itu. Tawamu, Tangisanmu, dan manjamu memberikan arti kerinduanku
padamu. walaupun kita pernah bertengkar, itu adalah proses menuju kasih sayangku
padamu. Terimakasih adik-adikku.
Kini usia mereka semakin bertambah tua, ayah
sudah pensiun dari pegawai negeri sipil, ibu sudah mulai beruban, adik-adik sudah
mulai pergi mencari ilmu ke luar kota, dan begitu pula denganku yang bekerja merantau
jauh di pulau seberang. rumah yang sederhana itu yang dulunya ramai, kini berubah menjadi
sepi. Mereka yang dulunya menjaga kita hingga dewasa, sekarang anak-anakmu pergi
meninggalkanmu yang semakin tumbuh tua. Oh Tuhan, Maafkanlah aku.
Walaupun jarak aku dengannya beratus ribu
kilometer, terhalang oleh dalamnya lautan, terhalang tingginya pegunung, tapi
dalam doa ku selalu sebut namanya, dalam tidur ku selalu mengingatnya dan dalam
kesepian ku selalu merindukannya. kelak aku akan pulang kesana, ke rumah yang
sederhana itu. Ayah, Ibu. Tunggulah anakmu disana.
Dalam renungan, batin ini terasa menyiksaku.
aku tidak mau menyianyiakan waktu. selagi masih ada mereka dan selagi aku belum
berkeluarga, aku ingin menjaga, merawat, dan membahagiakan mereka seperti mereka
melakukannya kepadaku saat sebelum dan setelah terlahir kedunia. Oh Tuhan, berikanlah mereka kesehatan dan umur yang panjang. amin..
Jam 00.21
WIB. Ditepi Sungai Pawan, Ketapang 13 April 2014













Tidak ada komentar:
Posting Komentar