Akhir-akhir
ini saya merasa kasihan kepada ayah. Semenjak pensiun dari PNS, saya sering melihat
dia lebih banyak melamun, mengerjakan pekerjaan rumah, sesekali menyiram
tanaman dan mengurusi kolam belakang rumah. Mungkin terselip dipikarannya,
betapa beratnya menjalani hidup ini ketika harus menafkahi keluarga terutama
anak-anak yang semuanya masih bersekolah.
Sedih
melihat dia. membiayai sekolah anaknya dari gaji pensiunan dan hasil ikan
sepatak kolam belakang rumah demi berharap anaknya menjadi orang sukses. Saya
adalah anak pertama bersekolah di perguruan tinggi negeri di kota bogor, adik
saya yang kedua kelas 3 SMA di kota majalengka, dan adik saya yang terakhir kelas
4 SD di kota Wonosobo. Tidak terhitung berapa besar materil yang dia berikan
dan berapa banyak cucuran keringatnya yang dia keluarkan, namun beliau lakukan
tidak pernah pamrih karena cinta seorang ayah kepada anaknya yang begitu luar
biasa.
Maafkan
saya ayah. Anakmu ini membuat ayah menanggung beban yang terlalu berat. Mungkin
Ayah berharap sekiranya saya lulus dengan cepat agar bisa mengurangi bebannya,
tapi kenyataannya sudah lima tahun lebih anaknya belum lulus-lulus. Saya tahu
saya salah, ayah sangat kecewa melihat saya. Tapi sekali lagi maafkan saya
ayah. Saya berjanji tahun ini akan saya lakukan yang ayah mau.
Saya
tahu memikul beban besar sebagai kepala rumah tangga tidaklah gampang apalagi kini
dia nampak sudah tua. Tapi dia selalu kuat dan semangat dalam menghadapi hidup
ini. Oh Tuhan, terimakasih Kau telah berikan sesosok ayah yang paling baik
dikehidupan saya. Berikanlah kekuatan, umur panjang, dan kesehatan baginya
karena saya ingin memberikan dia kebahagian dulu sebelum Kau memanggilnya.
Bogor, awal tahun 2013













Tidak ada komentar:
Posting Komentar