follow me

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sabtu, 21 Februari 2015

Ayah


Akhir-akhir ini saya merasa kasihan kepada ayah. Semenjak pensiun dari PNS, saya sering melihat dia lebih banyak melamun, mengerjakan pekerjaan rumah, sesekali menyiram tanaman dan mengurusi kolam belakang rumah. Mungkin terselip dipikarannya, betapa beratnya menjalani hidup ini ketika harus menafkahi keluarga terutama anak-anak yang semuanya masih bersekolah.
Sedih melihat dia. membiayai sekolah anaknya dari gaji pensiunan dan hasil ikan sepatak kolam belakang rumah demi berharap anaknya menjadi orang sukses. Saya adalah anak pertama bersekolah di perguruan tinggi negeri di kota bogor, adik saya yang kedua kelas 3 SMA di kota majalengka, dan adik saya yang terakhir kelas 4 SD di kota Wonosobo. Tidak terhitung berapa besar materil yang dia berikan dan berapa banyak cucuran keringatnya yang dia keluarkan, namun beliau lakukan tidak pernah pamrih karena cinta seorang ayah kepada anaknya yang begitu luar biasa.
Maafkan saya ayah. Anakmu ini membuat ayah menanggung beban yang terlalu berat. Mungkin Ayah berharap sekiranya saya lulus dengan cepat agar bisa mengurangi bebannya, tapi kenyataannya sudah lima tahun lebih anaknya belum lulus-lulus. Saya tahu saya salah, ayah sangat kecewa melihat saya. Tapi sekali lagi maafkan saya ayah. Saya berjanji tahun ini akan saya lakukan yang ayah mau.
Saya tahu memikul beban besar sebagai kepala rumah tangga tidaklah gampang apalagi kini dia nampak sudah tua. Tapi dia selalu kuat dan semangat dalam menghadapi hidup ini. Oh Tuhan, terimakasih Kau telah berikan sesosok ayah yang paling baik dikehidupan saya. Berikanlah kekuatan, umur panjang, dan kesehatan baginya karena saya ingin memberikan dia kebahagian dulu sebelum Kau memanggilnya.


Bogor, awal tahun 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar