follow me

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Rabu, 01 Agustus 2012

Untuk tuan di gedung megah (Karawang yang Malang)


Karawang kota “lumbung padi” Jawa Barat. Kabupaten dipesisir utara Jawa. Kau bagai ibu yang memberi anak-anakmu makan tanpa kenal pamrih. Kau diperas setiap hari seperti sapi perah. Sekarang kau begitu gemerlap dengan lampu – lampu dipinggir jalan, bangunan bangunan megah menghiasi disetiap penjuru.  Kadang orang yang pertama kali berkunjung akan bertanya dimana sawah yang menjadikan kau dipanggil “lumbung padi”?
Saya mulai memikirkan hal yang ditanyakan orang tadi, dimana letak sawah yang menjadikan Karawang Lumbung padi? Atau memang sekarang sudah menghilang digagahi gedung – gedung mewah, atau sudah berubah menjadi kawasan – kawasan industri? Sepanjang jalan dari kota terus saya renungkan. Apa memang sawah sudah menjadi hal yang asing bagi masyarakat karawang?
Setelah saya cermati, daerah Karawang yang memang masih banyak memiliki sawah ada di daerah utara. Daerah ini memang sentra penghasil padi di karawang. Dengan rata – rata produksi padi 6 – 8 ton/ha, ukuran yang cukup tingggi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, bahkan lebih tinggi dari Negara yang mengekspor berasnya ke Indonesia yaitu Vietnam dan Thailand yang hanya 3-5 ton/ha. Tetapi memang kesejahteraan petani di Karawang sangat berbanding terbalik dengan di luar negeri. Pemilikan lahan yang sempit, bahkan kebanyakan hanya petani penggarap yang mengurusi sawah tuannya diluar daerah, yang menyebabkan penghasilan petani menjadi tidak mencukupi.
Dan sekarang hal yang lebih serius mengancam keberadaan sawah di karawang. Alih fungsi lahan yang sangat cepat terjadi. Entah berapa luas sawah yang sudah terkonversi menjadi kawasan industri. Memang pabrik – pabrik di kawasan industri menyerap banyak tenaga kerja, tapi apa warga pribumi yang menikmatinya? Ternyata hanya 15% pekerja yang berasal dari pribumi. Selebihnya dari mana? Dari daerah – daerah luar karawang. Setelah sawah dikonversi menjadi pabrik, petani tidak punya lahan lagi untuk bertani. Lalu dia mengharapkan anaknya bisa bekerja diperusahaan untuk menyambung hidup, tapi ternyata untuk bekerja di daerah sendiri pun sangat sulit. Lalu untuk apa di konversi bila hanya membuat masyarakatnya sendiri terpinggirkan? Mata pencaharianya hilang? Entah lah, apa yang dipikirkan Tuan digedung megah sana.
Tuan dengan bangganya merubuhkan gedung-gedung yang masih kokoh, dan Tuan seperti acuh ketika harus bertugas  ke Cilamaya yang jalan penghubungnya lebih laik jadi arena off road dari pada jalan raya. Dan bahkan Tuan pun asli orang sana. Tuan membangun gedung Sekolah Dasar di kota dengan dana bermilyar – milyar tapi gedung sekolah di desaku masih jauh dari sederhana. Jangan terlalu banyak tidur Tuan, ketika Tuan bangun sawah – sawah sudah hilang, rakyatmu kelaparan, anak – anak meratapi gedung sekolahnya yang roboh. Cepatlah bangun Tuan di gedung megah!!!!!
                                                                                                                                                                Cariu, 22 Juli 2012

Saeful Ramadhan
Anggota Biasa
Biro Lingkungan Hidup Azimuth

Selasa, 31 Juli 2012

Menjemput Fajar mahameru


"Allahuakbarr… 
begitulah sewajarnya seorang muslim merayakan kemenangannya."

Sesaat kakiku terhenti sembari kuteriakkan takbir agungkan kebesaran Ilahi, menatap takjub dataran tertinggi. "Mahameru, atap pulau jawa, puncak para dewa" Begitulah disebut dataran dimana aku kini berpijak, Mengukuhkan kebanggaan seorang insan yang di beri kuasa menundukkan alam. Kebanggaan yang tak perlu dilebihkan karena demikianlah takdir Tuhan untuk kita. Maka dengannya para manusia dibebankan tugas yang berbeda.
Hembusan dingin kuat menyapu pasir semeru. Lagi, dataran ini menampakkan ketangguhannya, menguji ketahanan setiap pendaki. Di sini kau mungkin dapat bertahan untuk tidak terbawa hembusan anginnya, tetapi dingin akan tetap menusuk kulitmu menembus setiap helai kain yang engkau kenakan. Matahari mulai naik membawa harapan kehangatan yang tak kunjung tiba. Dinginnya terlalu pekat. Dan aku masih tersungkur, menikmati sujudku, mengucap syukur atas kesempatan yang Ia beri.
“Inaa…!” Sebuah seruan terdengar.
Aku tahu, itulah pertanda semua dari kami telah sampai di dataran ini. Sepuluh orang, tidak ada yang tertinggal. Aku tahu, ada kepuasan yang unik disetiap hati-hati kami. Kepuasan yang diistilahkan Sulaiman sebagai kebanggaan yang terjal. Terimakasih Allah, telah engkau pertemukan kami di sini. Terimakasih Allah telah enggkau satukan kami dalam pejalanan ini. Terimakasih Allah telah engkau sempatkan kami menapaki bumi-Mu. Semoga ukhuwah ini senantiasa terjaga hingga pertemuan yang abadi kelak.
***
Pukul sebelas malam, aku terbangun dari balik sebuah tenda di Arcopodo. sebuah dataran yang tidak terlalu luas tapi cukup untuk menampung beberapa tenda pendaki. Di sinilah sebagian pendaki biasanya membangun tempat peristirahatannya sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke puncak tertinggi gunung Semeru, terlebih bagi mereka yang memburu sun rise di puncak sana.
Sebagian lainya memilih Kalimati, dataran yang lebih luas dibawah Arcopodo untuk melepas lelah. Jarak antara keduanya hanyalah satu jam perjalanan mendaki. Disanalah kami beristirahat sejenak ketika melewatinya. Tidak teklalu lama disana, karena tujuan kami adalah tempat ini, Arcopodo.
Kalimati memang menyajikan pemandangan indah dengan tanah pasirnya yang putih kelabu diselingi rerumputan yang hijau menguning serta jarak terhadap sumbermani tidak terlalu jauh. Disana fasilitas peristirahatan sebenarnya lebih baik dengan adanya pos pendakian. Akan tetapi suhunya lebih dingin, juga jaraknya yang masih terlalu jauh dari puncak Mahameru membuat kami enggan memilihnya sebagai tempat bermalam.
Mahameru, puncak tertinggi gunung ini tidak bisa didaki sembarang waktu. Pukul Sembilan pagi biasanya para pendaki mulai turun menghindari gas beracun yang keluar dari  Jonggring Saloko, sebuah nama untuk kawah Semeru. Gas beracun yang konon tak terdeteksi indra manusia. Satu-satunya cara paling mudah untuk mengetahui kedatangannnya adalah dengan membaca arah angin.
Terlambat menghindari gas ini berarti kematian. Seperti itulah seorang aktifis bangsa ini mengakhiri masa baktinya. Soe Hok Gie, meninggal di puncak gunung Semeru tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27.
Segera setelah semua terbangun, persiapan untuk pendakian pun dimulai. Semua barang yang memberatkan, kami tinggal di sini. Hanya dua buah ransel kecil kami bawa untuk menyimpan sedikit perbekalan. Sengaja kami membaginya menjadi dua agar terasa lebih ringan di perjalanan. P3K, air minum, roti, coklat, gula merah, tali refling, dan perbekalan lain yang kiranya penting untuk digunakan tak boleh luput dipersiapkan.
Tak ada makanan cukup yang semestinya menjadi penambah energi untuk awali perjalanan malam yang panjang, mengejar sun rise di puncak semeru, menjemput fajar yang selalu hadirkan harapan. Hanya sepotong roti untuk membangkitkan energi yang tersimpan sebelumnya.
Tentang waktu, kami hanya dapat menduga. Sebuah literatur yang menjadi pegangan sepanjang perjalanan menuliskan tiga sampai empat jam waktu yang dibutuhkan untuk pendakian dari titik ini. Tetapi kabar terbaru dari teman pendakian, dari tempat ini mereka membutuhkan waktu tujuh jam. Untuk menyiasati keadaan terburuk, kami memilih yang kedua sebagai acuannya.
Berkumpullah kami sepuluh orang mahasiswa dalam satu lingkaran, memanjatkan doa. Memohon keselamatan juga kesempatan untuk menginjakkan kaki di puncak Semeru saat mentari terbit memancarkan pesona.
Perjalanan ini mungkin akan menjadi yang terberat sepanjang pendakian yang sudah kami lakukan selama beberapa hari ini terakhir. Jika sebelumnya kami dapat menikmati keindahan alam semeru. Kini gelapnya malam menutup mata kami dari pesonanya. Hanya taburan bintang dan seberkas cahaya rembulan teduhkan siapa yang berani menatap.
kami sangat percaya terbitnya matahari pagi saat sampai di puncak nanti akan menyajikan pemandangan yang paling spektakuler sepanjang perjalanan hingga pulang nanti. Itulah energi terbesar yang mendorong kami menembus gigitan dingin malam. Itulah ‘harapan’ yang kata nabi ‘adalah rahmat Allah untuk umatku’.
Perlahan kami mengatur posisi sambil memulai langkah. Sulaiman  yang menjadi  pemimpin perjalanan kami, menentukan posisi tiap-tiap anggootanya. Jeky didepan, diikuti Jo. Aku mengusul tepat di tengah barisan. Penerangan yang ada kami upayakan maksimal dengan menempatkannya pada posisi yang tepat.
“Bismillah” bisikku memulai langkah. Pukul dua belas kurang tengah malam, Pendakian pun dianjutkan.
***
“Tahan” ucapku memberi isyarat pada rekan didepan agar menghentikan langkahnya. Sadar akan medan yang terjal dan penerangan yang minim, kami berkomitment untuk tidak terpisah satu dengan yang lain.
Untuk kesekian kali, kami berhenti. Pukul satu dini hari,  Belum sampai dua jam perjalanan dilakukan. Nafas-nafas kami sudah menggambarkan keletihan yang sangat. Medan mendaki yang sedikit curam menguras tenaga kami lebih banyak.
“Refling ada Jo” kataku pada Jo menyanpaikan pesan dari bawah sana.
Salah satu ransel kecil yang kami bawa dari Arcopodo ada di tangan Jo yang berada di depan memimpin perjalanan. Tidak hanya pada pendakian malam ini, tetapi sejak awal Jo memang memimpin. Tubuhnya yang kecil membuat langkahnya ringan dan cepat. Tak heran jika kemudian Sulaiman memintanya berada di urutan kedua dalam  perjalanan malam ini.
“Buat siapa?” tanyaku
“Ina” jawaban yang samar kutangkap lewat desah yang tak jelas dari bawah sana.
Sejak awal perjalanan Ina memang sudah menunjukkan kelemahannya. Tetapi semangatnya yang luar biasa untuk terus bersama membuatnya bertahan sampai di sini. Semangat yang justru kita temukan dalam keterbatasannya. Aku malu pada diriku yang mulai mengeluh atas kelelahan.
Meski dengan berbagai bantuan, sampai ke tempat ini merupakan suatu yang luar biasa. Tidak semua orang diberikan kemampuan atau kesempatan untuk menapaki terjalnya pendakian Semeru. Untunglah egoisme diantara kami telah hilang ditelan dinginnya angin malam. Kini, yang ada di kepala kami adalah bagaimana cara untuk tetap bersama. Bahkan jika itu mengharuskan kami tidak sampai puncak menikmati keindahan alamnya.
Persahabatan sepanjang parjalanan kurasa cukup mengobati kekecewaan itu. Tetapi ina tidak pernah mau menjadi penyebab kegagalan. Seperti itulah seharusnya persahabatan dibangun. Untuk saling menguatkan, bukan saling mendahului, kemudian lari. Untuk saling membantu, bukan menyulitkan apalagi menghambat. Untuk bersama mencapai puncak kesuksesannya masing-masing.
Kulihat dari atas Ina sudah berdiri kembali. Tangannya ditarik refling sedang kakinya terus melangkah. Dari bawah mereka bergerak, ke atas terus merapat.
“Lanjut” Seru ku.
Kuberi aba-aba ke depan sembari ku pegang pundak sang pembuka jalan. Aku hanya mampu berdoa agar Ina benar-benar diberi kekuatan untuk terus melangkahkan kaki, mendaki.
Kembali kami bergerak dengan barisan yang teratur, masih seperti di awal tadi. Perlahan dalam gelap, ku perhatikan tumbuhan di sekitar yang mulai berkurang. Kini disekitar kami lebih banyak dipenuhi pasir dan bebatuan. Bebatuan yang mungkin berasal dari pucak yang kami tuju.
Aku mengira sudah dekat, Ternyata salah. Setelah beberapa jam dari batas pohon terakhir yang aku temui, belum ada tanda aku sampai di puncaknya. Di depan, aku hanya menemukan tanjakan yang semakin terjal penuh dengan bebatuan. Batas vegetasi itu, nyatanya baru awal dari perjalanan yang sebenarnya. Ketika tak ada lagi pepohonan yang menahan dinginnya tiupan angin malam.
***
“Salim tunggu ya, jangan ditinggal” pinta Asma.
Diam, tanpa jawaban. Tiga jam lebih pendakian menghadirkan kelelahan yang cukup membuat setiap orang enggan untuk banyak bercakap. Dan keheningan mempendengarkan jelas hembusan nafas lelahku sendiri. Deru angin memainkan irama kematian lewat dinginnya suhu pegunungan. Suara batu berjatuhan di sisi kami menghadirkan persepsi mengerikan akan medan yang terjal serta jurang yang tak terlihat. Entahlah, tapi kami hanya dapat menduga dalam keterbatasan.
 Aku berhenti, menatap sumber suara. Samar kilihat seseorang dengan penutup kepalanya, berpegang pada batu yang tak tampak kokoh.
“Sraaak…”
benar saja batu itu tergelicir, dan sosok tadi mencengkram pasir pertahankan posisi untuk tetap naik. Kusandarkan punggungku pada pasir-pasir itu. Menatap langit bertabur bintang, mengurangi sedikit lelah perjalanan lewat kecantikan gugusnya. Ada juga cahaya rembulan yang bawakan sedikit keteduhan.
Kuistirahatkan sejenak tubuh ini sambil menunggu rekan yang tertinggal. Belum tampak tanda-tanda puncak mahameru yang seharusnya semakin dekat. Gelap malamlah yang akhirnya membatasi  jarak pandang kami.
Asma, baru tiga hari aku mengenalnya. Bertemu pertama kali di stasiun Senen sebelum menaiki kereta menuju Semarang dilanjutkan ke Malang. Seperti juga aku, Asma pun mahasiswa. Hanya saja kami berbeda unversitas dan jenjang. Dari jenjang pendidikannya sebagai mahasiswa S-2 dialah yang tertua diantara kami. Konon kuliahnya di UGM baru benar-benar akan dimulai berkisar dua bulan lagi.
Kami sepuluh orang mahasiwa melakukan perjalannan dari kota Bogor, sebagian dari kami baru saling mengenal. Aku sebelumnya hanya mengenal tiga diantara kami. Sulaiman, Atif, dan Budi, mereka temanku satu kosan. Kosan yang tidak hanya memberikan tempat tinggal, tetapi juga pelajaran dan kenangan. Al Inayah, begitulah kami biasa menyebutnya.
tiga orang berikutnya Jeky, Jo dan Mino. Mereka baru kukenal beberapa hari sebelum perjalanan, ketika bersama membuat planning pendakian semeru. gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggiannya mencapai 3.676 meter diatas permukaan laut (mdpl). Sisanya ada Ina dan Teguh. Keduanya aku kenali di awal perjalanan, saat kami hendak bergerak dari Bogor.
Desah nafas yang juga kencang kudengar mendekat. Kualihkan pandangan ke bawah. Asma sudah berada tepat di kaki ku. Segera kucengram kuat pasir di sekitarku. Bersiap membalikkan badan untuk meneruskan pendakian yang sesaat tertunda. Seketika itu butiran pasir dan bebatuan kecil menggelinding ke bawah menandakan ketakberdayaan melawan grafitasi yang terus menarik ke pusat bumi. Pijakan kakiku menguat, bersiap mengatur langkah.
“Bentar Lim, kaki Aku kesemutan.”
Desah Asma yang pelan nyatanya mampu memaksaku untuk kembali mengendurkan otot, mengatur posisi untuk bersandar menahan diri agar tak terperosot jatuh seperti pasir bebatuan. Menghentikan langkah berarti menahan dingin. Semakin lama semakin menusuk.
“Aah sakit…” Rintih Asma lagi.
Keram pikirku, sambil mendekat kuminta Asma meluruskan kakinya. Agak sulit meraih kakinya untuk sedikit memberikan pijatan ringan. Jelas saja, posisi ku berada diatas.
Seorang dengan postur tinggi, rambut sepanjang bahu, mendekat dari bawah. Kami memanggilnya Jeky. Cara bergaulnya yang unik membuatnya memiliki banyak teman. Dengan bantuannyalah kami tidak mendapat kesulitan saat mencari penginapan di malam pertama kunjungan kami ke kota Malang sebelum melanjutkan perjalanan.
“Jak… jak… keram..!” Seruku member isyarat, memohon bantuan untuk Asma.
Dengan tanggap Jeky memberikan pertolongan pertamannya. Setengah jam perjalanan terhenti, sepanjang itulah kami menahan dingin. Tubuhku mulai menggigil. Perlahan kulafazkan zikir, meminta tambahan energi dari sumber yang paling berlimpah.
“yuk jalan lagi,” Ajak Asma “tapi pelan ya..!”.
Sesaat kukumpulkan kembali energiku. Kemudian melangkah kuat berharap puncak yang semakin dekat. Hanya sebentar kami kembali terhenti. Asma ternyata tak kuasa melangkah.
“Bisa bantu nggak..?”
“Pelan-pelan ja mba..!” Kali ini, aku bersuara.
“Iya, tapi aku jalannya pincang.” Komentar Asma lagi.
“Bantu Lim, dituntun biar  cepet..!” Pinta Jeky.
“Nanti kalau gak kuat kita gentian.” Serunya menawarkan solusi.
Tanpa ragu aku ulurkan tangan menuntun Asma, membantunya merangkai langkah. Perjalanan dilanjutkan dengan sisa tenaga yang ada. Aku tidak tahu seberapa jauh lagi kaki ini masih harus diayunkan untuk sampai ke puncak tertinggi itu. Bagi kami semua, ini adalah pendakian pertama yang masih menyisakan misteri. Aku hanya yakin dengan melangkahkan kaki, puncaknya akan mendekat. Itulah satu-satunya yang dapat aku lakukan sebelum keletihan atau dinginnya malam mengalahkan kami semua.
***
“Liat belakang Lim…” Lagi, suara itu mengajak untuk berhenti.
 Perjalanan kami sudah banyak tertunda, karenanya puncak belum juga tampak. Aku berhenti dengan tangan masih mencengkram pasir, sedang kaki siap melanjutkan pendakian. Hanya wajah yang menoleh dengan sedikit enggan menunda perjalanan.
Asma berhenti lebih dulu. Seketika itu dia langsung melepaskan tangannya dari cengramanku. Aku merasa ada sesuatu yang benar-benar memaksa kami untuk berhenti.
***
“Subhanallah” ucap ku tak kuasa menahan takjub akan lukisan hebat karya Pencipta.
Seberkas garis jingga tampak bergradasi menuju biru kemudian hitam. Sedang taburan bintang masih menghiasi langit yang mulai bercahaya. Sekumpulan awan tebal tampak seperti kapas putih seolah dapat dipijaki. Semua tampak indah dibawah kaki-kaki kami. Sederetan bukit bukit kecil bermunculan menembus awan, memantulkan hijau dari putihnya cahaya mentari yang masih terbatas.
Aku yakin setiap dari kami berhenti sejenak menikmati keindahan yang langka. Kulihat dibawah ada Jeky yang bersandar menatap langit. Sedang diatas ada Teguh yang berdiri menolehkan wajah. Keduanya menatap takjub pemandangan di belakang jalan.
Sebelumnya Teguh berada di bawah ku, tetapi kemudian menyusul saat langkahku dan Asma melambat.
“Tuntun terus Lim, sampai ke puncak ..! Tanganku sudah sakit. Ngak bisa bantu.” Pesan Teguh saat menyusul.
Aku salut padanya. Sekarang dipundaknya terpinggul salah satu ransel kecil yang kami bawa dari Arcopodo. Sebelumnya,  selama perjalanan dia jugalah yang mau mengangkat ransel Ina ketika pemiliknya mulai letih melangkah. Dengan itu perjalanan kami dapat dipercepat.
Selain Teguh dan Jeky aku tidak mampu melihat seperti apa posisi rekan yang lainnya. Yang aku tahu di atas Teguh ada Mino dan Budi, mereka berdua lah yang membuka jalan. Barisan yang kami atur sebelumnya diawal tidak lagi berlaku akibat tuntutan peran dan kondisi medan.
Di bawah Jeky, ada Jo dan Sulaiman yang menarik Ina dengan refling. Belakangan aku tahu, Ina tidak lagi ditarik oleh satu orang. Terakhir ada Atif yang menemani dibelakang, siap bergantian jika salah satu dari keduanya lelah. Itu dugaan ku jika formasi kami masih lengkap. Sejujurnya aku tak tahu pasti karena mata tak mampu lagi menangkap bayangan mereka yang di atas maupun yang di bawah.
 “Subuh…?” Tanya ku.
Tidak ada suara azan yang mengingatkan kami, tapi garis putih yang menguning di batas langit itu menjadi penanda datangnya fajar.
“Iya” Suara menyahut dari sampingku.
“Yuk dipercepat!”
“Kita akan sholat subuh dipuncak sana!”
“Bismillah, Semoga belum terlambat” Asma pun berdiri.
Aku menoleh keatas, teguh sudah tidak disana. Energi baru tiba-tiba saja muncul membakar kembali semangat kami. Aku tak tahu dari mana asalnya. Yang aku yakini, saat ini puncak Mahameru sudah sangat dekat. Disanalah kami akan melaksanakan shalat, saat mentari menjemput fajar dari barisan bukit Semeru. Mangucap syukur tak tertahan, Larut dalam doa panjang, sembari terus menatap indah ciptaan-Nya.



Bogor,  5 Juli 2012 (Ahmad Yasin)
***

*Sebuah catatan perjalanan kami 28 juni 2012.

Penulis: Ahmad Yasin (sahabat mahameruku)

Si Kembar: Naik dan Turun

Dia yang tampak dari jauh itu menggodaku untuk mendekatinya. Tidak hanya mendekati, bahkan menyentuhnya, mencium baunya, mendengar suaranya yang merupakan paduan, namun tidak berisik. Dia tak bicara. Tapi justru karena tak bicara, dia tampak menarik bagiku.

Tapi hatiku dan hatinya membicarakan sesuatu. Sesuatu yang jelas namun tak jelas. Kita bicara dengan bahasa entah apa namanya. Entah bahasa tubuh atau hati. Entah bahasa manusia, binatang, tumbuhan, batu, air, tanah, angin, atau api, aku juga tak tau. Entah aku dan dia mengerti atau tidak apa yang kita bicarakan, itu tak menghiraukanku. Yang jelas dan penting, kita bicara.

Aku hampiri dia dan mulai menyentuh permukaan tubuhnya yang kasar, benjol sana-sini, namun indah. Aku merasa sejuk dan nyaman. Hmm, segarnya. Dia lah yang mempesonaku, sebuah gunung di tanah sunda, gunung yang hidup, gunung Gede.

Banyak yang diajarkannya padaku. Kita membicarakan ini dan itu, tak habis-habis, sepanjang perjalananku menggapai puncaknya. Bahkan ketika aku hanya melihat dan memikirkannya. Karena indera hanya salah satu bagian dari kita untuk mengetahui, melihat dan mendengar sesuatu.

Dia banyak menunjukkan sesuatu padaku ketika aku mulai mendekati dan menjamah tubuhnya. Salah satu yang membuatku terkagum-kagum adalah ketika dia menunjukkan padaku pohon-pohon besar yang tumbang. Akarnya keluar dari tanah yang dia masuki sagat dalam. Di akarnya yang telanjang tampak usahanya untuk tetap berdiri, walaupun akhirnya jatuh juga. Akar itu berhasil mengangkat batu besar keluar dari dalam tanah, yang merekat kuat padanya. Siapa yang menjatuhkannya? Angin yang tak tampak.

Saat itu aku teringat perkataan seorang guru yang mengatakan bahwa, “semakin dia (pohon) berusaha bangkit ke atas menuju terang, semakin dalam akarnya berjuang ke arah bumi, ke bawah, menuju yang gelap dan dalam – menuju keburukan”.

Ya, perjalanan naik harus sama dengan perjalanan turun. Kita tidak bisa terus saja naik tanpa melakukan perjalanan turun. Seperti aku ketika berada di puncak sembari memandang lembah, aku rindu untuk turun. Di puncak, aku bisa menyaksikan hamparan pemandangan yang luas di bawah. Tanpa halangan. Aku senang. Aku bisa menyaksikan semua yang dibawahku lebih luas dan lebih menyeluruh dibandingkan ketika aku ada di bawah. Tapi aku jauh dari apa yang aku lihat.

Aku bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang-orang di bawah. Tapi untuk apa aku menyaksikan itu semua jika hanya untukku saja? Aku harus turun ke bawah dan menceritakannya pada orang-orang. Walaupun kebanyakan mereka tidak akan menghiraukanku. Ya, mereka yang di zona nyaman itu. Mereka yang merasa sudah bebas dan merdeka, padahal sebenarnya masih terpenjara oleh jeruji-jeruji besi zona nyaman mereka sendiri.

Seorang seniman tidak bisa terus terbang dalam awang-awangnya. Melihat dan membicarakan bunga mekar, anggur, bibir manis, bintang dan rembulan, tanpa melihat dan membicarakan tikus yang terpojok di got kotor, kucing kurus kering yang membongkar tempat sampah untuk mencari sisa-sisa tulang ikan dari si tuan polan, dan anjing-anjing yang terus menjilat majikannya untuk mendapatkan pujian dan makanan.

Ah, kawanku yang satu ini memang pandai membisikkan sesuatu tanpa kata. Ketika aku sudah mampu melampaui gunung itu, sampai di puncak, dia menunjukkan sesuatu yang lain, yang mulai mengusikku: Bahkan di tempat pijakan tertinggi ini ternyata masih ada hal yang tak bisa aku lampaui dan saksikan, yaitu diriku sendiri.

Aku bisa melihat pemandangan yang luas di bawahku, tapi aku tak bisa melihat diriku. Aku bisa melihat pohon, batu, dan manusia lain di sekitarku. Tapi aku tetap tak bisa melihat diriku. Di cermin pun aku hanya mampu melihat bayanganku, bukan aku yang aku kehendaki. Itu karena aku hanya mampu menjadikan kayu, tanah dan batu saja sebagai pijakanku. Aku tak mampu menjadikan kepalaku sendiri sebagai pijakan. Ah, betapa lemahnya aku ini. Suatu saat aku harus mampu menjadikan kepalaku sebagai pijakan untuk bisa melihat diriku sendiri, untuk mengenal aku yang sebenarnya aku.

Bagaimana aku bisa tau tentang hal-hal lain jika mengenal diri saja tidak bisa. Karena segala bentuk pengalaman tentang apapun, sebenarnya adalah pengalaman tentang diri. Diri lah yang mengalami dan dialami. Dan aku belum mengalami diriku sepenuhnya.

Sudahlah, cukup untuk saat ini. Aku harus segera turun untuk memberitakan sesuatu dan mengalami sesuatu yang lain. Kemudian aku akan naik lagi untuk menemukan rindu akan turun. Perjalanan naikku harus sama dengan perjalanan turunku. Seperti pohon-pohon besar yang ada di tubuh dia yang mempesonaku itu. Dia yang pandai berbicara tanpa kata.

Selamat tinggal kawan. Sampai jumpa di lain waktu, kawanku yang adalah pengalamanku.



pengarang:  Iham Poetra Maryam (sahabat terbaikku)

Hal yang Tidak Bisa Diucapkan Ayah Kepada Anaknya


Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.. akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa? Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil.. Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja.... Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu... Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu? Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...dan setelah perasaan khawatir itu berlarut- larut... ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang? "Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa.... dan kamu harus pergi kuliah dikota lain... Papa harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.

Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena Papa tahu.....

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya.... Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa.... Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik.... Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.... Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.... Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

Papa telah menyelesaikan tugasnya....

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita... Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat... Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman wanita ku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT !

Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita... tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya


sumber: penulis