follow me

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Selasa, 31 Juli 2012

Si Kembar: Naik dan Turun

Dia yang tampak dari jauh itu menggodaku untuk mendekatinya. Tidak hanya mendekati, bahkan menyentuhnya, mencium baunya, mendengar suaranya yang merupakan paduan, namun tidak berisik. Dia tak bicara. Tapi justru karena tak bicara, dia tampak menarik bagiku.

Tapi hatiku dan hatinya membicarakan sesuatu. Sesuatu yang jelas namun tak jelas. Kita bicara dengan bahasa entah apa namanya. Entah bahasa tubuh atau hati. Entah bahasa manusia, binatang, tumbuhan, batu, air, tanah, angin, atau api, aku juga tak tau. Entah aku dan dia mengerti atau tidak apa yang kita bicarakan, itu tak menghiraukanku. Yang jelas dan penting, kita bicara.

Aku hampiri dia dan mulai menyentuh permukaan tubuhnya yang kasar, benjol sana-sini, namun indah. Aku merasa sejuk dan nyaman. Hmm, segarnya. Dia lah yang mempesonaku, sebuah gunung di tanah sunda, gunung yang hidup, gunung Gede.

Banyak yang diajarkannya padaku. Kita membicarakan ini dan itu, tak habis-habis, sepanjang perjalananku menggapai puncaknya. Bahkan ketika aku hanya melihat dan memikirkannya. Karena indera hanya salah satu bagian dari kita untuk mengetahui, melihat dan mendengar sesuatu.

Dia banyak menunjukkan sesuatu padaku ketika aku mulai mendekati dan menjamah tubuhnya. Salah satu yang membuatku terkagum-kagum adalah ketika dia menunjukkan padaku pohon-pohon besar yang tumbang. Akarnya keluar dari tanah yang dia masuki sagat dalam. Di akarnya yang telanjang tampak usahanya untuk tetap berdiri, walaupun akhirnya jatuh juga. Akar itu berhasil mengangkat batu besar keluar dari dalam tanah, yang merekat kuat padanya. Siapa yang menjatuhkannya? Angin yang tak tampak.

Saat itu aku teringat perkataan seorang guru yang mengatakan bahwa, “semakin dia (pohon) berusaha bangkit ke atas menuju terang, semakin dalam akarnya berjuang ke arah bumi, ke bawah, menuju yang gelap dan dalam – menuju keburukan”.

Ya, perjalanan naik harus sama dengan perjalanan turun. Kita tidak bisa terus saja naik tanpa melakukan perjalanan turun. Seperti aku ketika berada di puncak sembari memandang lembah, aku rindu untuk turun. Di puncak, aku bisa menyaksikan hamparan pemandangan yang luas di bawah. Tanpa halangan. Aku senang. Aku bisa menyaksikan semua yang dibawahku lebih luas dan lebih menyeluruh dibandingkan ketika aku ada di bawah. Tapi aku jauh dari apa yang aku lihat.

Aku bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang-orang di bawah. Tapi untuk apa aku menyaksikan itu semua jika hanya untukku saja? Aku harus turun ke bawah dan menceritakannya pada orang-orang. Walaupun kebanyakan mereka tidak akan menghiraukanku. Ya, mereka yang di zona nyaman itu. Mereka yang merasa sudah bebas dan merdeka, padahal sebenarnya masih terpenjara oleh jeruji-jeruji besi zona nyaman mereka sendiri.

Seorang seniman tidak bisa terus terbang dalam awang-awangnya. Melihat dan membicarakan bunga mekar, anggur, bibir manis, bintang dan rembulan, tanpa melihat dan membicarakan tikus yang terpojok di got kotor, kucing kurus kering yang membongkar tempat sampah untuk mencari sisa-sisa tulang ikan dari si tuan polan, dan anjing-anjing yang terus menjilat majikannya untuk mendapatkan pujian dan makanan.

Ah, kawanku yang satu ini memang pandai membisikkan sesuatu tanpa kata. Ketika aku sudah mampu melampaui gunung itu, sampai di puncak, dia menunjukkan sesuatu yang lain, yang mulai mengusikku: Bahkan di tempat pijakan tertinggi ini ternyata masih ada hal yang tak bisa aku lampaui dan saksikan, yaitu diriku sendiri.

Aku bisa melihat pemandangan yang luas di bawahku, tapi aku tak bisa melihat diriku. Aku bisa melihat pohon, batu, dan manusia lain di sekitarku. Tapi aku tetap tak bisa melihat diriku. Di cermin pun aku hanya mampu melihat bayanganku, bukan aku yang aku kehendaki. Itu karena aku hanya mampu menjadikan kayu, tanah dan batu saja sebagai pijakanku. Aku tak mampu menjadikan kepalaku sendiri sebagai pijakan. Ah, betapa lemahnya aku ini. Suatu saat aku harus mampu menjadikan kepalaku sebagai pijakan untuk bisa melihat diriku sendiri, untuk mengenal aku yang sebenarnya aku.

Bagaimana aku bisa tau tentang hal-hal lain jika mengenal diri saja tidak bisa. Karena segala bentuk pengalaman tentang apapun, sebenarnya adalah pengalaman tentang diri. Diri lah yang mengalami dan dialami. Dan aku belum mengalami diriku sepenuhnya.

Sudahlah, cukup untuk saat ini. Aku harus segera turun untuk memberitakan sesuatu dan mengalami sesuatu yang lain. Kemudian aku akan naik lagi untuk menemukan rindu akan turun. Perjalanan naikku harus sama dengan perjalanan turunku. Seperti pohon-pohon besar yang ada di tubuh dia yang mempesonaku itu. Dia yang pandai berbicara tanpa kata.

Selamat tinggal kawan. Sampai jumpa di lain waktu, kawanku yang adalah pengalamanku.



pengarang:  Iham Poetra Maryam (sahabat terbaikku)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar