Karawang kota “lumbung padi” Jawa
Barat. Kabupaten dipesisir utara Jawa. Kau bagai ibu yang memberi anak-anakmu
makan tanpa kenal pamrih. Kau diperas setiap hari seperti sapi perah. Sekarang
kau begitu gemerlap dengan lampu – lampu dipinggir jalan, bangunan bangunan
megah menghiasi disetiap penjuru. Kadang
orang yang pertama kali berkunjung akan bertanya dimana sawah yang menjadikan
kau dipanggil “lumbung padi”?
Saya mulai memikirkan hal yang
ditanyakan orang tadi, dimana letak sawah yang menjadikan Karawang Lumbung
padi? Atau memang sekarang sudah menghilang digagahi gedung – gedung mewah,
atau sudah berubah menjadi kawasan – kawasan industri? Sepanjang jalan dari
kota terus saya renungkan. Apa memang sawah sudah menjadi hal yang asing bagi
masyarakat karawang?
Setelah saya cermati, daerah Karawang
yang memang masih banyak memiliki sawah ada di daerah utara. Daerah ini memang
sentra penghasil padi di karawang. Dengan rata – rata produksi padi 6 – 8 ton/ha,
ukuran yang cukup tingggi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, bahkan
lebih tinggi dari Negara yang mengekspor berasnya ke Indonesia yaitu Vietnam
dan Thailand yang hanya 3-5 ton/ha. Tetapi memang kesejahteraan petani di Karawang
sangat berbanding terbalik dengan di luar negeri. Pemilikan lahan yang sempit,
bahkan kebanyakan hanya petani penggarap yang mengurusi sawah tuannya diluar
daerah, yang menyebabkan penghasilan petani menjadi tidak mencukupi.
Dan sekarang hal yang lebih
serius mengancam keberadaan sawah di karawang. Alih fungsi lahan yang sangat
cepat terjadi. Entah berapa luas sawah yang sudah terkonversi menjadi kawasan
industri. Memang pabrik – pabrik di kawasan industri menyerap banyak tenaga
kerja, tapi apa warga pribumi yang menikmatinya? Ternyata hanya 15% pekerja
yang berasal dari pribumi. Selebihnya dari mana? Dari daerah – daerah luar
karawang. Setelah sawah dikonversi menjadi pabrik, petani tidak punya lahan
lagi untuk bertani. Lalu dia mengharapkan anaknya bisa bekerja diperusahaan
untuk menyambung hidup, tapi ternyata untuk bekerja di daerah sendiri pun
sangat sulit. Lalu untuk apa di konversi bila hanya membuat masyarakatnya
sendiri terpinggirkan? Mata pencaharianya hilang? Entah lah, apa yang
dipikirkan Tuan digedung megah sana.
Tuan dengan bangganya merubuhkan
gedung-gedung yang masih kokoh, dan Tuan seperti acuh ketika harus bertugas ke Cilamaya yang jalan penghubungnya lebih
laik jadi arena off road dari pada jalan raya. Dan bahkan Tuan pun asli orang
sana. Tuan membangun gedung Sekolah Dasar di kota dengan dana bermilyar –
milyar tapi gedung sekolah di desaku masih jauh dari sederhana. Jangan terlalu
banyak tidur Tuan, ketika Tuan bangun sawah – sawah sudah hilang, rakyatmu
kelaparan, anak – anak meratapi gedung sekolahnya yang roboh. Cepatlah bangun
Tuan di gedung megah!!!!!
Cariu,
22 Juli 2012
Saeful Ramadhan
Anggota Biasa
Biro Lingkungan Hidup Azimuth






.jpg)






izin repost ya gan
BalasHapussilahkan om
Hapus