follow me

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sabtu, 24 Agustus 2013

Kau sangat terlihat cantik seperti bidadari bila dengan agama yang kau kenakan kain itu




Tidak terasa waktu sudah berjalan begitu cepat. Artinya sudah lama juga tidak pernah jumpa dia lagi. Ya ibarat antara waktu dan dia bagaikan sebuah grafik linier, dimana semakin lama waktu berjalan maka semakin tak tertahan lagi rasa ingin jumpa dia. Penasaran akan keberadaannya, kabarnya, kerja dimana sekarang, pendamping dia sekarang, dan masih rasa penasaran yang lainnya yang ingin saya tahu.
            Sesekali kadang saya suka stalker-in dia di sebuah akun twitter maupun fb, sayang sekarang dia sudah tidak pernah lagi menggunakan fb dan akun twitter juga hanya nongol cuma beberapa kali saja, habis itu hilang. Mungkin dia sudah tertutup dalam mempublish soal kehidupan dia. Saya rasa dia sudah semakin dewasa dalam menjalani hidup.
            Suatu ketika dibulan ramdhan (saya yang beragama islam mungkin sudah kewajibannya dalam menjalani ibadah puasa), dia ngebbm saya (blackberry messenger) menanyakan kebaradaan saya ada dimana pas hari weekend, spontan saya jawab lagi ada di bogor. Tiba-tiba dia bilang akan ke bogor untuk buka bersama bersama teman-teman sekelasnya sekaligus mengajak saya ikut berbuka bersama, dan saya jawab “insyallah iya saya ikut tapi setelah acara selesai kita ke puncak”. Dan dia pun mengiyakan ajakan saya. Betapa senangnya ketika itu, bagi saya puncak adalah suatu tempat kenangan yang termanis bagi saya dimana tempat itu menjadi saksi ungkapan perasaan saya kepada dia. Kali ini saya ingin mengajak ke tempat yang lebih istimewa ketimbang ditempat saat saya mengutarakan perasaan saya, gantole tempatnya. Disana view kota bogor akan kelihatan lebih indah, apa lagi kalau malam hari gemerlap kehidupan kota bogor lebih terasa.
            Tidak kerasa hari weekend pun tiba, itu tandanya bahwa dia hari ini akan tiba ke kota bogor, kota hujan dan kota sejuta kenangan. Betapa deg-degan hati ini ketika melihat jam tangan, tinggal beberapa menit lagi saya akan berjumpa dengan dia dan pastinya tidak akan saya sia-siakan waktu ini untuk mengenang masa lalu bersama dia. Tidak begitu lama, tiba-tiba ada sebuah pesan singkat ke hp saya, ternyata sms dia. Dia bilang nanti habis magrib aja kita jalannya dan meminta jemput di tempat kosan temannya. Kecawa? Ya saya kecewa, saya kira berbuka puasa bersama dia saat adzan magrib berkumandang. Tapi sudahlah, rasa kecewa saya tadi masih bisa dipendam dalam hati. Positif, positif, dan positif yang ada dipikiran saya, karena setelah berjumpa dia pasti rasa kecewa tadi berbuah menjadi manis.  Dan saya pun membalas pesan singkat dia, “iya gpp, nanti sms aja kalau udah siap”.
             Adzan magrib pun telah berkumandang, saya pun mengambil minum dan langsung mengambil air wudhu untuk menjalankan kewajiban saya. Setelah shalat, hati ini kembali tidak tenang ketika tak ada juga kabar dari dia. Menonton TV sambil menunggu kabar dari dia mungkin akan sedikit terobati rasa pegal saya. Positif, positif, dan positif dalam pikiran saya, karena saya percaya ketika menghadapi hal seberat maupun sepahit apa pun akan berbuah manis pada waktunya.
            Suara hp pun berbunyi, ternyata dia menelepon saya. Dia meminta untuk menjemputnya di tempat kosan temannya dan meminta dibawakan jaket, saya pun mengiyakan permintaan dia. Tidak pikir panjang saya pun langsung bergegas kesana. Setiba di kosan temannya, ternyata banyak sekali teman-temannya yang sedang bersama dia. Pikiran malu pun menghatui saya. bagaimana tidak, teman-teman mereka sebagian besar teman saya juga, bisa-bisa saya jadi bahan olok-olokan disana. Sudahlah, lagi-lagi saya berpikiran teguh pada prinsip percaya ketika menghadapi hal seberat maupun sepahit apa pun akan berbuah manis pada waktunya. Saya pun langsung menghampiri dia dan menyalami teman-teman saya yang kebetulan juga ada disana. Ketika saya ngobrol dengan teman-teman, saya curi pandangan saya untuk menatap dia, subhanallah begitu cantiknya dia sekarang. Sehelai kain sorban yg menutupi sebagian kepalanya menambah pesona aura cantiknya. Dalam bisik hatiku, “kau sangat terlihat cantik seperti bidadari bila dengan agama yang kau kenakan kain itu”.
            Setengah jam kemudian kami pun berangkat menggunakan motor dan sebagian mobil. Diperjalanan saya tidak bisa berbicara banyak apa-apa seperti hal nya seorang pengecut. Kini sosok wanita yang tidak bisa pergi dari pikaranku ini tepat ada dibelakang saya, entah mengapa saya menjadi gugup ketika disamping dia. Sudahlah nanti saja dipuncak sana saya memberanikan diri untuk mengobrol lebih banyak lagi.
            Nasi goreng kambing mancur, ya itu merupakan tempat makan favorit saya dan dia waktu itu. Saya pun mengajak dia untuk makan disana saja sekaligus mengenang masa lalu. Dia pun mengiyakan permintaanku. Tapi lagi-lagi sifat pengecut ini kembali datang menghampiri saya, kini saya menjadi gugup dan tidak bisa berbicara banyak. Saya hanya bisa diam ketika dia selalu bermain dengan gadget nya. Saya lihat ternyata dia sekarang aktif menggunakan akun path dan disana saya mendapatkan jawaban paling tidak tentang dia yang jarang lagi aktif menggunakan akun twitter. Disana tidak ada obrolan panjang, dan kita bergegas pergi ke salah satu tempat makan di daerah taman kencana yang sudah ditunggu teman-teman dia.  
Setelah tiba di tempat makan, kami semua berbuka bersama dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu lagi semenjak mereka sudah lulus menjadi seorang sarjana. Kini tempat duduk dia dengan saya agak berjauhan, dia ditengah dan saya di ujung. Lagi-lagi saya curi pandangan saya untuk menatap dia, sayangnya kain sorban yang menutup kepalanya dia lepas. Walaupun terlihat cantik, namun tidak secantik ketika saya menjemputnya tadi. Entah apa hubungannya kecantikan antara mengenakan kain sorban itu atau tidak, yang jelas ada sesuatu perbedaan dalam batin menurutku.
            Obrolan sana sini membuat saya tidak sadar akan dengan waktu. Ternyata hujan turun cukup lebat dan jam ditangan menunjukkan sekitar jam 20.30an. Gawat, apakah dia mau berangkat ke puncak dalam keadaan hujan seperti ini? Sudahlah lebih baik saya tunggu hujan ini sampai reda toh teman-teman pun belum pergi pulang, dan lebih baik melanjutkan obrolan kami.
            Jam 21.00an hujan pun mulai reda, kami pun cepat-cepat bergegas pulang. Saya pun pergi duluan dan menunggu dia di parkiran motor karena saking semangatnya untuk pergi ke puncak. Entah kenapa, tiba-tiba hujan turun kembali. Firasatku sudah mulai tidak enak, tapi lagi-lagi saya berpegang teguh dengan prinsip saya yang tadi. Menunggu dia dibalik derasnya hujan sambil membayangkan dia ketika menggunakan kain sorban itu cukup mengobati rasa pegal saya. Tiba-tiba ada pesan singkat dia ke hp saya, dia mengajakku untuk menonton bersama teman-temannya. WHAT THE ****!. Kini firasat untuk bisa pergi ke puncak gagal menghatui saya. Tidak pikir panjang saya pun menolak ajakan dia dan membebaskan dia memilih untuk menonton ketimbang pergi dengan saya. Dan ada balasan pesan singkat dari dia, dia menanyakan kalau dia pergi apakah saya tidak marah? Saya pun langsung jawab tidak kok sudah biasa. Campur aduk antara kecewa dengan dinginnya hujan meruntuhkan semua prinsipku yang sudah ku pegang teguh salama ini ketika hujan mulai reda dia berpamitan kepada saya untuk pergi menonton bersama teman yang lainnya. Tersenyum yang bisa saya lakukan ketika itu dan berdiri tegak melihat dia pergi begitu saja dengan menutup kepalanya dengan kain sorban itu.
            Hujan yang tadinya mulai reda, kini menjadi deras lagi. Saya menepi ke pelantaran parkiran sambil menunduk lesu. Walaupun saya tidak ikhlas untuk kehilangan dia, tapi saya harus siap untuk kehilangan dia. Bisikan telinga kiri pun terdengar janji ya janji, janji harus ditepati dan janji bukan sekedar hutang yang bisa dibayar lain hari lagi, sedangkan bisikan telinga kanan terdengar Tuhan mengirim hujan karena mungkin ini saatnya jalan bagi saya untuk melupakan dia. Satu jam hujan tidak kunjung reda, saya pun memilih lebih baik pulang walaupun nantinya sakit. Sakit karena hujan mungkin tidak akan sesakit rasanya sakit hati.


Terima kasih

4 komentar:

  1. gak sengaja keklik twitternya liat bio-nya buka blognya dan baca ini. subhanallah semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dengan kain yang jadi agamanya (": #np-peri cintaku

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin ya cis, semoga masih ada yang masih menggunakan kain sorban :)

      Hapus
    2. sorban?? elaaaaah pak haji apeee pake sorban hahaha

      Hapus