Majalengka - Wonosobo
Malam harinya
jam 8, kami berlima berkumpul dirumah mandra sekaligus ditemani si bonus.
Setelah mengatur barang-barang di dalam keril, akhirnya kami berangkat sejam
kemudian dan berpamitan ke si bonus, memintanya mendoakan kami semua agar
selamat sampai kembali pulang. Kami bertiga naik sebuah elf, sedangkan mandra
naik motor sampai pertengahan jalan dan menyambungnya kembali dengan elf. Di
dalam elf, kami bertiga tidak banyak saling berkomunikasi. Kondisi didalam elf
pada malam itu didesaki para penumpang dan posisi duduk kita berjauhan. Setelah
sampai setengah perjalanan, ada sosok lelaki yang memberhentikan elf kami.
Keril yang tinggi menjulang dibelakang badannya, seakan dia sosok pendaki juga
yang entah mau mendaki gunung mana. Setelah dia naik kedalam mobil, ku perhatikan
sosok lelaki itu. Ternyata lelaki itu tak asing dengan kita, Mandra. Aku
terkejut dan senang melihatnya karena rombongan kami telah berkumpul.
15 menit
kemudian, kami pun telah tiba di kadipaten. Sebuah nama yang lebih terkenal
dibandingkan nama kotanya. Dulu aku kagum dengan daerah ini. Daerah yang punya
bangunan yang bernilai history, tapi seakan perkembangan jaman
bangunan-bangunan itu disulap menjadi minimarket, ruko, dan ladang yang tak
terurus. Menurutku dengan adanya perkembangan jaman berdampak semakin tidak
menghargai yang bernilai histrory, budaya, dan adat karena ujung-ujungnya uang.
“ah sudahlah, aku ini Cuma rakyat bodoh yang tak tahu apa-apan tentang jalannya
pemimpin kota ini yang [katanya] pintar”, dalam benakku.
Setelah
menunggu satu jam (22.00 wib), bus yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang
juga. kami pun langsung bergegas masuk kedalam bus. aku sungguh terkejut
melihat kondisi didalam bus. para penumpang berdiri berdempetan, tak ada ruang
gerak dan jangan harap bisa menemukan kursi kosong. Didalam bus kami pun tak
banyak berkomunikasi. Aku lihat posisi teman-teman kami disekitar, ku lihat si
kutil dedepanku, si mandra dibelakangku, dan si kolor terhalang oleh 5 orang
dariku. Sesekali aku perhatikan si kolor sambil kuawasinya, kepalanya menyentuh
tangannya yang diangkat keatas pegangan penumpang, matanya sayu tertiup angin
malam, dan tubuhnya yang lentur mengikuti irama bus. aku tahu dia terasa
kecapean dan ingin tidur. Di Brebes, sebagian penumpang banyak yang turun. Aku
berharap diantara penumpang yang turun adalah penumpang yang duduk. Mataku
mulai menatap tajam mencari kursi yang kosong dan tak peduli jika harus
berebutan dengan penumpang yang lainnya. Aku berniat jika menemukan kursi itu,
akan kuberikan kepada si kolor agar bisa beristirahat. Aku temukan satu kursi
kosong, dan akhirnya keduluan sama si kutil. Aku memintanya agar kursi itu
diberikan ke si kolor, dan dia tidak keberatan memberikannya. Tinggal kami
bertiga yang berdiri. Antara pegal dan cape, akhirnya kami duduk dilantai bus.
sesekali kami pun tertidur dengan menekuk kedua kaki kita masing-masing.
Setelah tiba di Tegal, kebanyakan penumpang banyak yang turun. Kali ini aku tak
perlu repot-repot berebutan kursi. Kami bertiga akhirnya mendapatkan kursi yang
kosong walau posisi kami berjauhan. Aku lihat mereka melanjutkan tidurnya yang
tertunda, sedangkan aku masih melihat pemandangan diluar jendela yang masih
gelap gulita. Disepanjang jalan pasifik Tegal hingga Kroya, aku teringat jaman
KKP (Kuliah Kerja Profesi) dulu. Aku teringat dimana aku dan kawan-kawan sholat
dan melanjutkan makan bersama dihalaman mesjid dekat mall pasifik, aku teringat
menghabiskan waktuku bersama wanitaku serta kawan-kawanku dulu di sepanjang
jalan ini, dan aku teringat dimana aku dan kawan-kawanku melalui jalan ini
ketika pergi ke gunung slamet. Kenangan itu seakan mengiringi aku untuk menjauh
dari otak sadarku, dan akhirnya setelah melewati daerah Kroya aku pun tertidur.
Jam 03.30 dini
hari akhirnya kami tiba di terminal Purwokerto. Kami pun bergeges mencari bus
yang melewati daerah Kledung. Tak perlu lama untuk mencari bus tujuan kami,
disana banyak para calo yang mengarahkan tujuan kita. Kami pun menunggu bus
diluar karena masih mengetem, dan kami pun sedikit berfoto-foto dan menghisap
kretek yang ku bawa. Kali ini penumpangnya tidak terlalu banyak, dan kami pun
bisa memilih kursi yang diinginkan. Jam 04.30 wib kami pun berangkat dan
semuanya melanjutkan sisa tidurnya yang tertunda.
Disekitar
daerah Wonosobo, aku terbangun mendengar banyak langkah kaki yang berebutan
turun. Ku tanyakan pada penumpang yang turun, dan ternyata penumpang bus ini
dioper dan disuruh pindah ke bus yang dibelakangnya. Kami pun sontak kaget dan
betapa malasnya ketika harus memindahkan keril satu demi satu ke bus satunya
lagi. Kejadian ini seperti memaksaku untuk melakukan olahraga pagi. Di bus baru
ini, penumpang terlihat sedikit penuh dibandingkan bus yang mengangkut kami
dari wonosobo. kami duduk dibelakang bus, dan menikmati pesona keindahan lembah
gunung sindoro sumbing yang seakan membuat kita enggan untuk tidur kembali.
Jam 08.15 wib
kami tiba di Kledung dengan sambutan hujan gerimis. Daerah ini merupakan salah
satu jalur menuju gunung sindoro sumbing. Kami memutuskan untuk mendaki gunung
sumbing terlebih dahulu. Melihat gps di handphone ku, kami mengikuti arah basecamp
gunung sumbing, STICKPALA. Tak susah untuk menemukannya, karena lokasinya
persis disisi jalan. Tiba di basecamp, kami beristirahat sebentar dan
mencharger handphone. Kami bagi-bagi tugas, Mandra dan kolor membeli logistik
dipasar yang letaknya tak jauh dar basecamp, sementara aku mengecek
perlengkapan yang akan dibawa dan kutil memesan makanan serta menitipkan barang
yang tak terpakai ke basecamp. Setengah jam kemudian mandra dan kolor sudah
kembali, dan tak lama kemudian makanan kami telah datang. Tak perlu waktu lama
untuk menghabiskannya, aku menyadari kami semua belum makan dari semalam.













