follow me

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sabtu, 07 Maret 2015

Doa Sindoro Sumbing (III)

Majalengka - Wonosobo

Malam harinya jam 8, kami berlima berkumpul dirumah mandra sekaligus ditemani si bonus. Setelah mengatur barang-barang di dalam keril, akhirnya kami berangkat sejam kemudian dan berpamitan ke si bonus, memintanya mendoakan kami semua agar selamat sampai kembali pulang. Kami bertiga naik sebuah elf, sedangkan mandra naik motor sampai pertengahan jalan dan menyambungnya kembali dengan elf. Di dalam elf, kami bertiga tidak banyak saling berkomunikasi. Kondisi didalam elf pada malam itu didesaki para penumpang dan posisi duduk kita berjauhan. Setelah sampai setengah perjalanan, ada sosok lelaki yang memberhentikan elf kami. Keril yang tinggi menjulang dibelakang badannya, seakan dia sosok pendaki juga yang entah mau mendaki gunung mana. Setelah dia naik kedalam mobil, ku perhatikan sosok lelaki itu. Ternyata lelaki itu tak asing dengan kita, Mandra. Aku terkejut dan senang melihatnya karena rombongan kami telah berkumpul.
15 menit kemudian, kami pun telah tiba di kadipaten. Sebuah nama yang lebih terkenal dibandingkan nama kotanya. Dulu aku kagum dengan daerah ini. Daerah yang punya bangunan yang bernilai history, tapi seakan perkembangan jaman bangunan-bangunan itu disulap menjadi minimarket, ruko, dan ladang yang tak terurus. Menurutku dengan adanya perkembangan jaman berdampak semakin tidak menghargai yang bernilai histrory, budaya, dan adat karena ujung-ujungnya uang. “ah sudahlah, aku ini Cuma rakyat bodoh yang tak tahu apa-apan tentang jalannya pemimpin kota ini yang [katanya] pintar”, dalam benakku.
Setelah menunggu satu jam (22.00 wib), bus yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga. kami pun langsung bergegas masuk kedalam bus. aku sungguh terkejut melihat kondisi didalam bus. para penumpang berdiri berdempetan, tak ada ruang gerak dan jangan harap bisa menemukan kursi kosong. Didalam bus kami pun tak banyak berkomunikasi. Aku lihat posisi teman-teman kami disekitar, ku lihat si kutil dedepanku, si mandra dibelakangku, dan si kolor terhalang oleh 5 orang dariku. Sesekali aku perhatikan si kolor sambil kuawasinya, kepalanya menyentuh tangannya yang diangkat keatas pegangan penumpang, matanya sayu tertiup angin malam, dan tubuhnya yang lentur mengikuti irama bus. aku tahu dia terasa kecapean dan ingin tidur. Di Brebes, sebagian penumpang banyak yang turun. Aku berharap diantara penumpang yang turun adalah penumpang yang duduk. Mataku mulai menatap tajam mencari kursi yang kosong dan tak peduli jika harus berebutan dengan penumpang yang lainnya. Aku berniat jika menemukan kursi itu, akan kuberikan kepada si kolor agar bisa beristirahat. Aku temukan satu kursi kosong, dan akhirnya keduluan sama si kutil. Aku memintanya agar kursi itu diberikan ke si kolor, dan dia tidak keberatan memberikannya. Tinggal kami bertiga yang berdiri. Antara pegal dan cape, akhirnya kami duduk dilantai bus. sesekali kami pun tertidur dengan menekuk kedua kaki kita masing-masing. Setelah tiba di Tegal, kebanyakan penumpang banyak yang turun. Kali ini aku tak perlu repot-repot berebutan kursi. Kami bertiga akhirnya mendapatkan kursi yang kosong walau posisi kami berjauhan. Aku lihat mereka melanjutkan tidurnya yang tertunda, sedangkan aku masih melihat pemandangan diluar jendela yang masih gelap gulita. Disepanjang jalan pasifik Tegal hingga Kroya, aku teringat jaman KKP (Kuliah Kerja Profesi) dulu. Aku teringat dimana aku dan kawan-kawan sholat dan melanjutkan makan bersama dihalaman mesjid dekat mall pasifik, aku teringat menghabiskan waktuku bersama wanitaku serta kawan-kawanku dulu di sepanjang jalan ini, dan aku teringat dimana aku dan kawan-kawanku melalui jalan ini ketika pergi ke gunung slamet. Kenangan itu seakan mengiringi aku untuk menjauh dari otak sadarku, dan akhirnya setelah melewati daerah Kroya aku pun tertidur.
Jam 03.30 dini hari akhirnya kami tiba di terminal Purwokerto. Kami pun bergeges mencari bus yang melewati daerah Kledung. Tak perlu lama untuk mencari bus tujuan kami, disana banyak para calo yang mengarahkan tujuan kita. Kami pun menunggu bus diluar karena masih mengetem, dan kami pun sedikit berfoto-foto dan menghisap kretek yang ku bawa. Kali ini penumpangnya tidak terlalu banyak, dan kami pun bisa memilih kursi yang diinginkan. Jam 04.30 wib kami pun berangkat dan semuanya melanjutkan sisa tidurnya yang tertunda.
Disekitar daerah Wonosobo, aku terbangun mendengar banyak langkah kaki yang berebutan turun. Ku tanyakan pada penumpang yang turun, dan ternyata penumpang bus ini dioper dan disuruh pindah ke bus yang dibelakangnya. Kami pun sontak kaget dan betapa malasnya ketika harus memindahkan keril satu demi satu ke bus satunya lagi. Kejadian ini seperti memaksaku untuk melakukan olahraga pagi. Di bus baru ini, penumpang terlihat sedikit penuh dibandingkan bus yang mengangkut kami dari wonosobo. kami duduk dibelakang bus, dan menikmati pesona keindahan lembah gunung sindoro sumbing yang seakan membuat kita enggan untuk tidur kembali.
Jam 08.15 wib kami tiba di Kledung dengan sambutan hujan gerimis. Daerah ini merupakan salah satu jalur menuju gunung sindoro sumbing. Kami memutuskan untuk mendaki gunung sumbing terlebih dahulu. Melihat gps di handphone ku, kami mengikuti arah basecamp gunung sumbing, STICKPALA. Tak susah untuk menemukannya, karena lokasinya persis disisi jalan. Tiba di basecamp, kami beristirahat sebentar dan mencharger handphone. Kami bagi-bagi tugas, Mandra dan kolor membeli logistik dipasar yang letaknya tak jauh dar basecamp, sementara aku mengecek perlengkapan yang akan dibawa dan kutil memesan makanan serta menitipkan barang yang tak terpakai ke basecamp. Setengah jam kemudian mandra dan kolor sudah kembali, dan tak lama kemudian makanan kami telah datang. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskannya, aku menyadari kami semua belum makan dari semalam.

Rabu, 25 Februari 2015

Doa Sindoro Sumbing (II)

PERKENALAN

Pada malam hari, aku berkunjung ke rumah sahabat saya yang letaknya tidak jauh dari kota. Sebut saja Mandra (nama aslinya Sandra). Dia merupakan teman SD dan SMP sewaktu aku masih kecil. Dulu aku sekampung dengan dia walaupun berbeda blok.  Tapi sekarang rumah aku sudah pindah saat aku kelas 6 SD dan berbeda kampung. Dulu kita Cuma biasa aja, bertemu pun Cuma menatapnya bahkan bertegur sapa pun jarang. Awalnya saat reunian SMP setelah lebaran 2014, entah dari mana aku dengan dia menjadi dekat yang sekarang menjadi seorang sahabat. Usut punya usut, ternyata dia mempunyai kesamaan hobi denganku, naik gunung. Sebuah hobi yang memberikan pelajaran hidup tentang puncak bukan tujuan utamanya melainkan yang terpenting menggapai prosesnya. Aku sangat kagum dengan cara dia menajalani kehidupannya. Penuh semangat, pekerja keras dan tentunya berjiwa humoris dengan kata-katanya yang pedas. Dibalik raut mukanya, dia sosok yang pintar menyembunyikan perasaanya, saat belum lama ditinggalkan oleh kedua orangtunya meninggal, dia tetap ceria dengan humorannya. Walaupun aku tahu dibalik hatinya yang terdalam rasa bersedih telah menyilmutinya, tp dia enggan menunjukkan kesedihan itu terlihat oleh teman-temannya apa lagi melihat teman-temannya ikut bersedih. Aku salut dengan lelaki seperti itu.
Saat tiba dirumahnya, kami pun ngobrol kesana kemari serta diselingi menanyakan kabar aku dan si kolor yang kemarin baru turun dari ciremai. Nama asli si kolor adalah Jeje. Entah kenapa sahabatku yang satu ini banyak julukannya, mulai dari bagong, jebag, kolor, tarzan, pakde. Tapi aku lebih sering memanggilnya kolor. Dia juga merupakan teman SD dan SMP sewaktu aku masih kecil. Dulu aku sekampung, namun berbeda blok. Blok dia berdekatan dengan blok aku, sehingga dia kawan bermain aku sejak kecil. Sekarang rumah dia sudah pindah ke Bekasi, namun dia masih sering main ke majalengka karena masih banyak saudaranya yang masih tinggal disini.  Aku ingat betul saat masa-masa kecil dia, hobi dia berenang disebuah kolam ikan didekat rumahnya dan hingga sekarang dia masih suka menyempatkan berenang disana ketika dia datang kesini. Aku sangat kagum dengan sifat supelnya, semua orang di daerah ini hampir mengenal dia. Selain itu dia juga berjiwa humoris, tak sedikit orang yang terkocok perutnya oleh kelakuannya. Orang yang belum mengenal dia, banyak yang mengira dia seorang tentara karena perawakannya dan rambut yang dicepaknya.
Secangkir kopi menjadi teman ngobrol kami dimalam itu dan membahas rencana tahun baruan kita mendaki gunung sindoro sumbing, gunung yang belum pernah kudaki. Kuhisap djarum yang telah kujepit diantara jari-jari tangan kananku dan ku telepon kolor dan teman aku yang bernama kutil. Ku suruh dia datang kerumah mandra untuk membicarakan acara pendakian. Dia pun mengiyakan ajakan aku dan bergegas kesini. Dia merupakan teman aku dari SMP dan berubah beriringan waktu menjadi sahabat. Sama dengan si mandra, kami menjadi dekat sejak acara reunian itu. Rumah aku dengan dia berbeda kampung namun kita sering berkumpul bersama-sama. Dia suka dipanggil kutil karena perawakannya yang kecil, namun nama aslinya Agung. Dia merupakan sosok yang humoris seperti yang lainnya, selain itu juga dia berjiwa penyabar. Dia menjalani kehidupan ini dengan sangat keras, bertubi-tubi cobaan yang datang menghampirinya, tapi dia tetap bersabar menjalaninya. Sering kali aku, mandra, dan kolor menjadi tempat curahan hatinya. Dan sesekali kami pun alihkan pembicaran dengan guyonan agar dia tak berlarut dalam kesedihannya.
Tidak lama kemudian, kolor dan kutil telah tiba dirumah mandra. Kami berempat membahas sisa obrolan yang tadi tertunda tentang acara pendakian gunung sindoro sumbing. Ini pendakian aku bersaama jeje yang kelima kalinya yang sebelumnya ke semeru, ciremai, papandayan, dan guntur. Pendakian aku yang keempat kalinya bersama kutil sebelumnya ke ciremai, papandayan, dan guntur. Dan bersama mandra yang kedua kalinya yang sebelumnya ke ciremai. Didalam obrolan yang rencananya menggunakan motor akhirnya dengan mempertimbangkan keselamatan dan cuaca yang sering hujan diganti menggunakan bis. Kami sepakat tiap orang mengumpulkan uang minimal 350.000 dan setelah terkumpul uangnya dipegang oleh satu orang. Ini salah satu cara agar meminimkan pengeluarkan kita agar tidak banyak jajan dan semuanya sama rata. Selain itu kita sepakat jadwal pemberangkatan hari lusa dan titik temunya dirumah sandra dan membagi-bagi tugas buat besok meminjam peralatan yang belum ada. Dipenghujung obrolan kita, tiba-tiba jeje tidak janji bisa ikut dikarenakan alasan bertepatan acara 100 hari meninggal kakeknya dan dikarenakan faktor keuangannya yang menipis. Kami bertiga pun saling diam setelah mendengar alasannya. Aku tahu dibenak mandra dan kutil kecewa, dan begitu juga aku. Rencana yang jauh-jauh hari kita canangkan ketika turun dari ciremai, dalam satu malam hancur berantakan. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa memaksakannya untuk ikut serta dalam pendakian ini. Dalam raut mukanya, aku bisa merasakannya apa yang dia rasakan, begitu bersalah dan sulit ketika harus memilih. Kami bertiga pun memakluminya dan siap membantu jika masalah keuangan, tapi jikalau alasan 100 hari kakeknya meninggal kami tidak memaksakannya ikut berangkat.
Esoknya di rumah mandra. aku, kutil dan mandra berkumpul setelah kami mencari pinjaman alat sesuai tugasnya masing-masing. Tinggal kompor dan tenda yang belum kita dapat. Pikirku ini pertanda pendakian ini kita batalkan. Aku tidak mau dipaksakan karena peralatan yang belum ada sangat riskan dicuaca musim penghujan, ditambah belum ada keputusan dari si jeje antara ikut atau tidak. Tidak bisa dipungkuri, jeje merupakan orang yang sangat berpengaruh dari kolompok kami. Tanpa dia, tidak ada bahan ledekan dan bahan tawaan serta tidak ada orang yang bisa ngelucu. Akan tetapi, dalam hatiku malu dengan jiwa semangatnya si mandra. Dia begitu antusias laksana bara api yang sedang membakarnya. Begitu jahatnya bila ku redupkan baranya dan menjadikannya abu. Kami pun menyepakati keputusannya besok sore, jika peralatan masih belum lengkap maka kita batalkan pendakian ini, dan jika peralatannya sudah lengkap maka kita berangkat malamnya dan tentunya kami menunggu kabar dari jeje sampai besok dan jika jeje tidak bisa ikut, maka kami berangkat bertiga saja.
Siang hari pada hari H. Sebelum aku  berangkat mencari peralatan, aku singgah dulu kerumah mandra. Disana aku mengecek kesiapan sang punya rumah. Betapa terkejutnya aku melihat barang-barang yang sudah dia packing. Aku malu sendiri, padahal aku belum packing sama sekali. Dia susun barang-barang kedalam plastik demi plastik yang dimasukan kedalam keril merahnya. Ku telepon kutil ku suruh dia agar datang ke rumah mandra agar membawa kerilku yang mau dia pakai. Aku dan mandra berbincang-bincang sambil berpikir mencari peralatan yang kurang lengkap. aku akui aku sempat berpikir rencana kita akan gagal berangkat. Tiba-tiba pesan singkat dari temanku yang bernama bonus dan botai yang baru turun dari cikuray  dan papandayan udah sampai rumahnya tadi malam, dan sontak ku telepon dia menanyai peralatan yang kita butuhkan dan agar meminjamkannya. Dan akhirnya dia tidak keberatan meminjamkannya pada kami. Tak lama kemudian kutil pun datang. Dia menjelaskan bahwa tadi dapat kabar dari jeje katanya dia jadi ikut berangkat. Aku pun sangat senang mendengarnya. Tak lama banyak bicara, aku ijin pergi kerumahnya bonus untuk mengambil peralatan. Saat aku mau berangkat, mandra menyuruhku agar mengambil bendera SBO (Sangga Buana Outdoor) ditoko depan polres majalengka. Siapa tau nanti dapat tambahan pinjaman peralatan tuturnya. Aku pun menurutinya.
Ditoko SBO, aku sedikit berbincang-bincang dahulu bersama pemiliknya, A Oman. Dia senior dan lebih tua dari aku yang juga berpengalaman dengan organisasinya, Jantera. Tak panjang lebar, Aku menawarkan untuk mengibarkan bendera SBO dipuncak gunung sindoro sumbing, dan dia menyambutnya dengan hangat sambil memberikanku bendera SBO bersama sebuah kompor dan menawariku peralatan yang lainnya. Namun disela-sela pembicarannya kecuali tenda yang kosong, karena lusa mau dipakai istrinya untuk mendaki gunung gede, dan sisanya ada diluar semua disewa orang lain ke ciremai. Dalam hatiku “sebenarnya aku malu untuk meminjam peralatannya yang lainnya, aku rasa dengan dikasih pinjam kompor saja sudah beruntung”. Dan akhirnya aku pamit ke dia dan meminta restu agar selamat sampai pulang kembali. Aku pun bergegas kerumah si bonus.
Dirumah si bonus, seperti biasa aku sedikit berbincang-bincang tentang berbagi pengalaman dia sehabis pulang dari gunung cikuray dan papandayan. aku disugihi cerita menarik yang membuat hasrat aku penasaran ingin mendaki cikuray. Aku akui karena aku belum pernah kesana. Ketika dia pergi kedapur membuatkanku kopi, mataku kembali bertakjub kagum ketembok kamarnya. Tembok kamarnya yang disulap menjadi wall climbing. Sederhana, dan kreatif dalam benak pikirku. Aku mencoba sesekali menaikinya, rasanya tak kuat berlama-lama jari ini menompang berat badanku. Dua cangkir kopi pun datang ketika aku sedang menelepon si kolor dan menyuruhnya kesini. Aku masih penasaran dengan kabar yang diberikan oleh si kutil. “Aku ingin medengar dari orangnya langsung”, dalam batinku.
Ku minum kopi yang telah disuguhkan tadi dan kuhisap djarum yang telah sempat ku diamkan ditepi asbak. Akhirnya si kolor datang, kami pun berbincang rencana pendakian. Ternyata dia ingin ikut akan tetapi terkendala keuangan, dan tidak menjadi masalah dia tidak hadir dalam 100 hari kakeknya meninggal. Tanpa pikir panjang aku pun langsung tak mempersalahkannya, “asal niat maka berangkat”, ucapku. Tak lama memang si kolor berbincang denganku, karena dia ditunggu oleh seseorang. Dia pun pamit dan ku suruh segera packing karena malamnya kita akan berangkat. Ketika tinggal hanya aku dan si bonus, aku memintanya tolong meminjamkan peralatan dia. tak ada keraguan dia menolaknya, semua barang yang ada dia pinjamkan semua termasuk sisa-sisa logistik yang kemarin. Dia pun mengSMS adit agar datang kerumahnya membawa tenda. Dia pun menjelaskan bahwa tendanya hanya berkapasitas maksimal dua orang. Aku pun tak mempermasalahkannya bagaimana caranya tidur, terpenting bisa terlindung dari hujan dan suhu dingin luar yang sewaktu-waktu bisa berubah ekstrim. Adit pun datang membawa tendanya dan meminjamkannya. Ku ucapkan banyak terimakasih kepada mereka dan mendoakan atas segala kebaikannya sambil aku berpamitan pulang.
Sesampainya dirumah, aku pun langsung packing barang-barang yang akan dibawa. Aku masukin sisa-sisa logistik di dapur tanpa sepengetahuan orangtuaku, aku ambil obat-obatan di ruang praktik ibu tanpa sepengetahuannya juga. Setelah semuanya terkumpul, ku masukkan semuanya kedalam keril hitamku. Aku bungkus dengan cover bag warna orange agar tidak basah terkena hujan. Di sisa waktu sebelum berangkat, aku browsing mencari jalur pendakian gunung sindoro sumbing dan ku download data track gpx nya buat di gps handphone ku. Setelah kejadian dari gunung tambora yang membuatku tersasar, cara ini aku jadikan hal yang wajib sebelum mendaki gunung. 

Doa Sindoro Sumbing (I)

PROLOG

Majalengka, Ujung tahun 2014
                Sehari setelah turun dari gunung ciremai, rasa jenuh itu kembali hadir menyelimuti bayang-bayang. Sebatas sarjana pengangguran yang kini melekat dalam maluku. Ikut tes CPNS dan berusaha mengirimkan berkas lamaran ke perusahaan-perusahaan melalui email sudah ku lakukan, tapi lagi lagi melampaui rasa batas menungguku. Rasa jenuh melewati hari demi hari, “apakah gunanya aku sekolah tinggi-tinggi bila aku hanya jadi seorang yang tak berguna“, bisik dalam hatiku.
                Masih dalam jenuhku.  Aku sebenarnya iri dengan teman-temanku yang sukses diluar sana. Sering kali kesuksesannya di ekspose ke social media, dari cara obrolan mereka bahkan dari gaya hidup mereka ketika bertemu. “Mengapa orang lain bisa sedangkan aku tidak bisa?” bisik hatiku. Seperti terkena pecutan sang kusir terhadap kudanya, hewan itu tetap berlari kokoh walaupun ingin berteriak karena kerasnya cambukan sang majikannya.
“Hidup itu memang keras. Aku tidak mau jadi seorang penonton yang terus berdiam diri.  aku harus ikut turun ke luar sana dan ikut berkompetisi dengan yang lainnya” ucap aku. Rasa iri ini ku jadikan sebuah tolak ukur proses pendewasaan, foto-foto yang diekspose oleh teman-teman di social media ku jadikan suatu motivasi untuk bangkit kembali. Social media ku jadikan tempat memanasi diri dan sebuah cambuk semangat dimana saat rasa malas datang menghampiri dan membangkitkan kembali rasa semangat ini. Aku bersyukur semakin rajin orang-orang mengekspose kehidupannya ke social media, maka aku semakin semangat kembali untuk meraih hidup yang keras ini.
Aku rindu gunung yang belum pernah ku daki. Dan aku juga rindu memanjatkan doa diatasnya dengan balutan keringatku dan disaksikan oleh mahakarya sang pencipta. Gunung Sindoro sumbing, aku harus kesana!

Sabtu, 21 Februari 2015

Ayah


Akhir-akhir ini saya merasa kasihan kepada ayah. Semenjak pensiun dari PNS, saya sering melihat dia lebih banyak melamun, mengerjakan pekerjaan rumah, sesekali menyiram tanaman dan mengurusi kolam belakang rumah. Mungkin terselip dipikarannya, betapa beratnya menjalani hidup ini ketika harus menafkahi keluarga terutama anak-anak yang semuanya masih bersekolah.
Sedih melihat dia. membiayai sekolah anaknya dari gaji pensiunan dan hasil ikan sepatak kolam belakang rumah demi berharap anaknya menjadi orang sukses. Saya adalah anak pertama bersekolah di perguruan tinggi negeri di kota bogor, adik saya yang kedua kelas 3 SMA di kota majalengka, dan adik saya yang terakhir kelas 4 SD di kota Wonosobo. Tidak terhitung berapa besar materil yang dia berikan dan berapa banyak cucuran keringatnya yang dia keluarkan, namun beliau lakukan tidak pernah pamrih karena cinta seorang ayah kepada anaknya yang begitu luar biasa.
Maafkan saya ayah. Anakmu ini membuat ayah menanggung beban yang terlalu berat. Mungkin Ayah berharap sekiranya saya lulus dengan cepat agar bisa mengurangi bebannya, tapi kenyataannya sudah lima tahun lebih anaknya belum lulus-lulus. Saya tahu saya salah, ayah sangat kecewa melihat saya. Tapi sekali lagi maafkan saya ayah. Saya berjanji tahun ini akan saya lakukan yang ayah mau.
Saya tahu memikul beban besar sebagai kepala rumah tangga tidaklah gampang apalagi kini dia nampak sudah tua. Tapi dia selalu kuat dan semangat dalam menghadapi hidup ini. Oh Tuhan, terimakasih Kau telah berikan sesosok ayah yang paling baik dikehidupan saya. Berikanlah kekuatan, umur panjang, dan kesehatan baginya karena saya ingin memberikan dia kebahagian dulu sebelum Kau memanggilnya.


Bogor, awal tahun 2013

Flashback AFF 2010 Indonesia


Pukul 01.36 WIB, karena tak ada kerjaan di kosan, iseng-iseng saya buka laptop. Karena boring tak ada alunan lagu yang pas, saya tak sengaja membuka folder-folder lagu. Seketika ada sebuah folder yang isinya berbagai macam alunan lagu nasional Indonesia. Ketika di play, merinding. Baru saja intronya, badan ini sudah berkeringat dingin, spontan mata pun menjadi berkaca-kaca. Entah lah, mengapa ketika ada alunan lagu nasional seperti ada sesuatu energi yang besar mempengaruhi jiwa dan raga saya ini?

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan


Lirik diatas adalah salah satu ciptaan dari bu sud yang berjudul “Tanah Airku”. Betapa tersentuhnya jika kita dengarkan dalam keadaan kita sedang diasingkan, suasana jauh dari keramaian, dan jauh dari negara yang kita cintai.
Ada suatu kejadian diluar kesadaran saya. Pada waktu itu, saat Indonesia dan Vietnam menjadi tuan rumah AFF Suzuki Cup 2010, saya selalu hadir langsung ke Senayan mendukung para pahlawan lapangan hijau untuk menyemangatinya. Setiap pertandingan bahkan tidak pernah terliwati, hanya saat pertandingan lawan fillipina dan final lawan malaysia yang berlangsung di negeri tetangga tidak hadir karena masalah klasik, yaitu waktu dan finansial.
Saat itu Indonesia berada di grup A bersama Thailand, Malaysia, dan Laos. Grup neraka menurut saya, bagaimana tidak Thailand adalah tim yang terbaik ada di Asia Tenggara ini, sedangkan Malaysia adalah tim yang performanya semakin meningkat dari tahun ke tahun, dan Laos adalah tim under dog yang siap menjungkalkan para lawannya. Luar biasa!! Di grup ini Indonesia tidak terkalahkan dengan mengemas angka penuh (9 poin), dan tidak terduga tim Thailand berada diposisi ke tiga, alhasil Malaysia yang melaju ke semifinal bersama Indonesia.
Putaran semifinal Indonesia bertemu Filipina. Pertandingan Indonesia lawan orang Eropa saya pikir. Bagaimana tidak, para pemain Filipina rata-rata pemain naturalisasi yang mendominasi pemain inti dan pemain asli keturunan dari Filipina mungkin hanya sekitar 1-2 orang di tim inti. Leg pertama berlangsung di Filipina, alhamdulillah Indonesia menang 1-0. Penentuan masuk final ditentukan di Leg kedua yang berlangsung di Jakarta. Deg-degan saat menyaksikan para pahlawan lapangan hijau sedang berjuang. Bernyanyi-nyanyi dan yel-yel garuda sudah pasti tidak ketinggalan. Dan pada akhir pertandingan, peluit panjang akhirnya dibunyikan, pertandingan ini dimenangkan Indonesia dengan skor 1-0 lagi.
Air mata sontak mau keluar dari kelopak mataku ketika Indonesia masuk final, ku peluk teman-teman disekitar saya, para pemain pun berlarian ke arah tribun penonton merayakan kemenangan, dan semua penonton pun pada bersorak ria sambil menyanyikan lagu garuda. Tidak ketinggalan para pengelola stadion memutarkan alunan lagu Indonesia Tanah Air Beta sehingga membuat para penonton ikut menyanyikan lagu itu dengan semangat. Kali ini saya pun benar-benar menangis. Kelak saya nanti mati, jangan kalian kuburkan saya di negeri orang, tapi kuburkanlah saya di tanah ini, di tanah Indonesia tercinta.

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi

Akhir dari Final AFF 2010 dimenangkan oleh Negera tetangga kita, Malaysia. Namun saya tetap bangga menjadi warga Indonesia dan berharap timnas Indonesia bisa belajar dari kegagalannya, karena kita semua rindu akan prestasi.
Wasallam

Bogor, akhir tahun 2012