PROLOG
Majalengka, Ujung tahun 2014
Sehari
setelah turun dari gunung ciremai, rasa jenuh itu kembali hadir menyelimuti
bayang-bayang. Sebatas sarjana pengangguran yang kini melekat dalam maluku. Ikut
tes CPNS dan berusaha mengirimkan berkas lamaran ke perusahaan-perusahaan melalui
email sudah ku lakukan, tapi lagi lagi melampaui rasa batas menungguku. Rasa
jenuh melewati hari demi hari, “apakah gunanya aku sekolah tinggi-tinggi bila aku
hanya jadi seorang yang tak berguna“, bisik dalam hatiku.
Masih
dalam jenuhku. Aku sebenarnya iri dengan
teman-temanku yang sukses diluar sana. Sering kali kesuksesannya di ekspose ke
social media, dari cara obrolan mereka bahkan dari gaya hidup mereka ketika
bertemu. “Mengapa orang lain bisa sedangkan aku tidak bisa?” bisik hatiku. Seperti
terkena pecutan sang kusir terhadap kudanya, hewan itu tetap berlari kokoh
walaupun ingin berteriak karena kerasnya cambukan sang majikannya.
“Hidup itu
memang keras. Aku tidak mau jadi seorang penonton yang terus berdiam diri. aku harus ikut turun ke luar sana dan ikut berkompetisi
dengan yang lainnya” ucap aku. Rasa iri ini ku jadikan sebuah tolak ukur proses
pendewasaan, foto-foto yang diekspose oleh teman-teman di social media ku
jadikan suatu motivasi untuk bangkit kembali. Social media ku jadikan tempat
memanasi diri dan sebuah cambuk semangat dimana saat rasa malas datang menghampiri
dan membangkitkan kembali rasa semangat ini. Aku bersyukur semakin rajin
orang-orang mengekspose kehidupannya ke social media, maka aku semakin semangat
kembali untuk meraih hidup yang keras ini.
Aku rindu gunung
yang belum pernah ku daki. Dan aku juga rindu memanjatkan doa diatasnya dengan balutan
keringatku dan disaksikan oleh mahakarya sang pencipta. Gunung Sindoro sumbing,
aku harus kesana!












Tidak ada komentar:
Posting Komentar