follow me

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Rabu, 25 Februari 2015

Doa Sindoro Sumbing (I)

PROLOG

Majalengka, Ujung tahun 2014
                Sehari setelah turun dari gunung ciremai, rasa jenuh itu kembali hadir menyelimuti bayang-bayang. Sebatas sarjana pengangguran yang kini melekat dalam maluku. Ikut tes CPNS dan berusaha mengirimkan berkas lamaran ke perusahaan-perusahaan melalui email sudah ku lakukan, tapi lagi lagi melampaui rasa batas menungguku. Rasa jenuh melewati hari demi hari, “apakah gunanya aku sekolah tinggi-tinggi bila aku hanya jadi seorang yang tak berguna“, bisik dalam hatiku.
                Masih dalam jenuhku.  Aku sebenarnya iri dengan teman-temanku yang sukses diluar sana. Sering kali kesuksesannya di ekspose ke social media, dari cara obrolan mereka bahkan dari gaya hidup mereka ketika bertemu. “Mengapa orang lain bisa sedangkan aku tidak bisa?” bisik hatiku. Seperti terkena pecutan sang kusir terhadap kudanya, hewan itu tetap berlari kokoh walaupun ingin berteriak karena kerasnya cambukan sang majikannya.
“Hidup itu memang keras. Aku tidak mau jadi seorang penonton yang terus berdiam diri.  aku harus ikut turun ke luar sana dan ikut berkompetisi dengan yang lainnya” ucap aku. Rasa iri ini ku jadikan sebuah tolak ukur proses pendewasaan, foto-foto yang diekspose oleh teman-teman di social media ku jadikan suatu motivasi untuk bangkit kembali. Social media ku jadikan tempat memanasi diri dan sebuah cambuk semangat dimana saat rasa malas datang menghampiri dan membangkitkan kembali rasa semangat ini. Aku bersyukur semakin rajin orang-orang mengekspose kehidupannya ke social media, maka aku semakin semangat kembali untuk meraih hidup yang keras ini.
Aku rindu gunung yang belum pernah ku daki. Dan aku juga rindu memanjatkan doa diatasnya dengan balutan keringatku dan disaksikan oleh mahakarya sang pencipta. Gunung Sindoro sumbing, aku harus kesana!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar