PERKENALAN
Pada malam
hari, aku berkunjung ke rumah sahabat saya yang letaknya tidak jauh dari kota. Sebut
saja Mandra (nama aslinya Sandra). Dia merupakan teman SD dan SMP sewaktu aku
masih kecil. Dulu aku sekampung dengan dia walaupun berbeda blok. Tapi sekarang rumah aku sudah pindah saat aku
kelas 6 SD dan berbeda kampung. Dulu kita Cuma biasa aja, bertemu pun Cuma menatapnya
bahkan bertegur sapa pun jarang. Awalnya saat reunian SMP setelah lebaran 2014,
entah dari mana aku dengan dia menjadi dekat yang sekarang menjadi seorang
sahabat. Usut punya usut, ternyata dia mempunyai kesamaan hobi denganku, naik
gunung. Sebuah hobi yang memberikan pelajaran hidup tentang puncak bukan tujuan
utamanya melainkan yang terpenting menggapai prosesnya. Aku sangat kagum dengan
cara dia menajalani kehidupannya. Penuh semangat, pekerja keras dan tentunya
berjiwa humoris dengan kata-katanya yang pedas. Dibalik raut mukanya, dia sosok
yang pintar menyembunyikan perasaanya, saat belum lama ditinggalkan oleh kedua
orangtunya meninggal, dia tetap ceria dengan humorannya. Walaupun aku tahu
dibalik hatinya yang terdalam rasa bersedih telah menyilmutinya, tp dia enggan
menunjukkan kesedihan itu terlihat oleh teman-temannya apa lagi melihat
teman-temannya ikut bersedih. Aku salut dengan lelaki seperti itu.
Saat tiba
dirumahnya, kami pun ngobrol kesana kemari serta diselingi menanyakan kabar aku
dan si kolor yang kemarin baru turun dari ciremai. Nama asli si kolor adalah
Jeje. Entah kenapa sahabatku yang satu ini banyak julukannya, mulai dari
bagong, jebag, kolor, tarzan, pakde. Tapi aku lebih sering memanggilnya kolor.
Dia juga merupakan teman SD dan SMP sewaktu aku masih kecil. Dulu aku
sekampung, namun berbeda blok. Blok dia berdekatan dengan blok aku, sehingga
dia kawan bermain aku sejak kecil. Sekarang rumah dia sudah pindah ke Bekasi,
namun dia masih sering main ke majalengka karena masih banyak saudaranya yang
masih tinggal disini. Aku ingat betul
saat masa-masa kecil dia, hobi dia berenang disebuah kolam ikan didekat
rumahnya dan hingga sekarang dia masih suka menyempatkan berenang disana ketika
dia datang kesini. Aku sangat kagum dengan sifat supelnya, semua orang di
daerah ini hampir mengenal dia. Selain itu dia juga berjiwa humoris, tak
sedikit orang yang terkocok perutnya oleh kelakuannya. Orang yang belum
mengenal dia, banyak yang mengira dia seorang tentara karena perawakannya dan
rambut yang dicepaknya.
Secangkir kopi
menjadi teman ngobrol kami dimalam itu dan membahas rencana tahun baruan kita
mendaki gunung sindoro sumbing, gunung yang belum pernah kudaki. Kuhisap djarum
yang telah kujepit diantara jari-jari tangan kananku dan ku telepon kolor dan teman
aku yang bernama kutil. Ku suruh dia datang kerumah mandra untuk membicarakan
acara pendakian. Dia pun mengiyakan ajakan aku dan bergegas kesini. Dia
merupakan teman aku dari SMP dan berubah beriringan waktu menjadi sahabat. Sama
dengan si mandra, kami menjadi dekat sejak acara reunian itu. Rumah aku dengan
dia berbeda kampung namun kita sering berkumpul bersama-sama. Dia suka
dipanggil kutil karena perawakannya yang kecil, namun nama aslinya Agung. Dia
merupakan sosok yang humoris seperti yang lainnya, selain itu juga dia berjiwa
penyabar. Dia menjalani kehidupan ini dengan sangat keras, bertubi-tubi cobaan
yang datang menghampirinya, tapi dia tetap bersabar menjalaninya. Sering kali
aku, mandra, dan kolor menjadi tempat curahan hatinya. Dan sesekali kami pun
alihkan pembicaran dengan guyonan agar dia tak berlarut dalam kesedihannya.
Tidak lama
kemudian, kolor dan kutil telah tiba dirumah mandra. Kami berempat membahas
sisa obrolan yang tadi tertunda tentang acara pendakian gunung sindoro sumbing.
Ini pendakian aku bersaama jeje yang kelima kalinya yang sebelumnya ke semeru,
ciremai, papandayan, dan guntur. Pendakian aku yang keempat kalinya bersama
kutil sebelumnya ke ciremai, papandayan, dan guntur. Dan bersama mandra yang
kedua kalinya yang sebelumnya ke ciremai. Didalam obrolan yang rencananya menggunakan
motor akhirnya dengan mempertimbangkan keselamatan dan cuaca yang sering hujan
diganti menggunakan bis. Kami sepakat tiap orang mengumpulkan uang minimal
350.000 dan setelah terkumpul uangnya dipegang oleh satu orang. Ini salah satu
cara agar meminimkan pengeluarkan kita agar tidak banyak jajan dan semuanya
sama rata. Selain itu kita sepakat jadwal pemberangkatan hari lusa dan titik
temunya dirumah sandra dan membagi-bagi tugas buat besok meminjam peralatan
yang belum ada. Dipenghujung obrolan kita, tiba-tiba jeje tidak janji bisa ikut
dikarenakan alasan bertepatan acara 100 hari meninggal kakeknya dan dikarenakan
faktor keuangannya yang menipis. Kami bertiga pun saling diam setelah mendengar
alasannya. Aku tahu dibenak mandra dan kutil kecewa, dan begitu juga aku.
Rencana yang jauh-jauh hari kita canangkan ketika turun dari ciremai, dalam
satu malam hancur berantakan. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa
memaksakannya untuk ikut serta dalam pendakian ini. Dalam raut mukanya, aku
bisa merasakannya apa yang dia rasakan, begitu bersalah dan sulit ketika harus
memilih. Kami bertiga pun memakluminya dan siap membantu jika masalah keuangan,
tapi jikalau alasan 100 hari kakeknya meninggal kami tidak memaksakannya ikut
berangkat.
Esoknya di
rumah mandra. aku, kutil dan mandra berkumpul setelah kami mencari pinjaman
alat sesuai tugasnya masing-masing. Tinggal kompor dan tenda yang belum kita
dapat. Pikirku ini pertanda pendakian ini kita batalkan. Aku tidak mau
dipaksakan karena peralatan yang belum ada sangat riskan dicuaca musim
penghujan, ditambah belum ada keputusan dari si jeje antara ikut atau tidak.
Tidak bisa dipungkuri, jeje merupakan orang yang sangat berpengaruh dari
kolompok kami. Tanpa dia, tidak ada bahan ledekan dan bahan tawaan serta tidak ada
orang yang bisa ngelucu. Akan tetapi, dalam hatiku malu dengan jiwa semangatnya
si mandra. Dia begitu antusias laksana bara api yang sedang membakarnya. Begitu
jahatnya bila ku redupkan baranya dan menjadikannya abu. Kami pun menyepakati
keputusannya besok sore, jika peralatan masih belum lengkap maka kita batalkan
pendakian ini, dan jika peralatannya sudah lengkap maka kita berangkat malamnya
dan tentunya kami menunggu kabar dari jeje sampai besok dan jika jeje tidak
bisa ikut, maka kami berangkat bertiga saja.
Siang hari
pada hari H. Sebelum aku berangkat
mencari peralatan, aku singgah dulu kerumah mandra. Disana aku mengecek
kesiapan sang punya rumah. Betapa terkejutnya aku melihat barang-barang yang
sudah dia packing. Aku malu sendiri, padahal aku belum packing sama sekali. Dia
susun barang-barang kedalam plastik demi plastik yang dimasukan kedalam keril
merahnya. Ku telepon kutil ku suruh dia agar datang ke rumah mandra agar
membawa kerilku yang mau dia pakai. Aku dan mandra berbincang-bincang sambil
berpikir mencari peralatan yang kurang lengkap. aku akui aku sempat berpikir
rencana kita akan gagal berangkat. Tiba-tiba pesan singkat dari temanku yang
bernama bonus dan botai yang baru turun dari cikuray dan papandayan udah sampai rumahnya tadi
malam, dan sontak ku telepon dia menanyai peralatan yang kita butuhkan dan agar
meminjamkannya. Dan akhirnya dia tidak keberatan meminjamkannya pada kami. Tak
lama kemudian kutil pun datang. Dia menjelaskan bahwa tadi dapat kabar dari
jeje katanya dia jadi ikut berangkat. Aku pun sangat senang mendengarnya. Tak
lama banyak bicara, aku ijin pergi kerumahnya bonus untuk mengambil peralatan.
Saat aku mau berangkat, mandra menyuruhku agar mengambil bendera SBO (Sangga
Buana Outdoor) ditoko depan polres majalengka. Siapa tau nanti dapat tambahan
pinjaman peralatan tuturnya. Aku pun menurutinya.
Ditoko SBO,
aku sedikit berbincang-bincang dahulu bersama pemiliknya, A Oman. Dia senior
dan lebih tua dari aku yang juga berpengalaman dengan organisasinya, Jantera. Tak
panjang lebar, Aku menawarkan untuk mengibarkan bendera SBO dipuncak gunung
sindoro sumbing, dan dia menyambutnya dengan hangat sambil memberikanku bendera
SBO bersama sebuah kompor dan menawariku peralatan yang lainnya. Namun
disela-sela pembicarannya kecuali tenda yang kosong, karena lusa mau dipakai
istrinya untuk mendaki gunung gede, dan sisanya ada diluar semua disewa orang
lain ke ciremai. Dalam hatiku “sebenarnya aku malu untuk meminjam peralatannya
yang lainnya, aku rasa dengan dikasih pinjam kompor saja sudah beruntung”. Dan
akhirnya aku pamit ke dia dan meminta restu agar selamat sampai pulang kembali.
Aku pun bergegas kerumah si bonus.
Dirumah si
bonus, seperti biasa aku sedikit berbincang-bincang tentang berbagi pengalaman
dia sehabis pulang dari gunung cikuray dan papandayan. aku disugihi cerita
menarik yang membuat hasrat aku penasaran ingin mendaki cikuray. Aku akui
karena aku belum pernah kesana. Ketika dia pergi kedapur membuatkanku kopi,
mataku kembali bertakjub kagum ketembok kamarnya. Tembok kamarnya yang disulap
menjadi wall climbing. Sederhana, dan kreatif dalam benak pikirku. Aku mencoba
sesekali menaikinya, rasanya tak kuat berlama-lama jari ini menompang berat
badanku. Dua cangkir kopi pun datang ketika aku sedang menelepon si kolor dan
menyuruhnya kesini. Aku masih penasaran dengan kabar yang diberikan oleh si
kutil. “Aku ingin medengar dari orangnya langsung”, dalam batinku.
Ku minum kopi
yang telah disuguhkan tadi dan kuhisap djarum yang telah sempat ku diamkan
ditepi asbak. Akhirnya si kolor datang, kami pun berbincang rencana pendakian.
Ternyata dia ingin ikut akan tetapi terkendala keuangan, dan tidak menjadi
masalah dia tidak hadir dalam 100 hari kakeknya meninggal. Tanpa pikir panjang
aku pun langsung tak mempersalahkannya, “asal niat maka berangkat”, ucapku. Tak
lama memang si kolor berbincang denganku, karena dia ditunggu oleh seseorang.
Dia pun pamit dan ku suruh segera packing karena malamnya kita akan berangkat.
Ketika tinggal hanya aku dan si bonus, aku memintanya tolong meminjamkan
peralatan dia. tak ada keraguan dia menolaknya, semua barang yang ada dia
pinjamkan semua termasuk sisa-sisa logistik yang kemarin. Dia pun mengSMS adit
agar datang kerumahnya membawa tenda. Dia pun menjelaskan bahwa tendanya hanya
berkapasitas maksimal dua orang. Aku pun tak mempermasalahkannya bagaimana
caranya tidur, terpenting bisa terlindung dari hujan dan suhu dingin luar yang
sewaktu-waktu bisa berubah ekstrim. Adit pun datang membawa tendanya dan
meminjamkannya. Ku ucapkan banyak terimakasih kepada mereka dan mendoakan atas
segala kebaikannya sambil aku berpamitan pulang.
Sesampainya
dirumah, aku pun langsung packing barang-barang yang akan dibawa. Aku masukin
sisa-sisa logistik di dapur tanpa sepengetahuan orangtuaku, aku ambil
obat-obatan di ruang praktik ibu tanpa sepengetahuannya juga. Setelah semuanya
terkumpul, ku masukkan semuanya kedalam keril hitamku. Aku bungkus dengan cover
bag warna orange agar tidak basah terkena hujan. Di sisa waktu sebelum
berangkat, aku browsing mencari jalur pendakian gunung sindoro sumbing dan ku
download data track gpx nya buat di gps handphone ku. Setelah kejadian dari
gunung tambora yang membuatku tersasar, cara ini aku jadikan hal yang wajib
sebelum mendaki gunung.













